Selamat Datang di Situs Lembaga Pers Mahasiswa Sinar_FkipUtm

Kamis, 19 Januari 2017

Bodoh



Cerpen Linda S. (LPM Sinar, 19 Januari 2017)

Aku seorang gadis desa yang kebetulan beruntung memiliki pekarangan yang indah. Benar-benar indah, bahkan pekaranganku akan membuat iri pada tiap mata orang yang melihatnya. Ada pun, beberapa orang berusaha membuat pekarangan seperti milikku. Tapi apa? Tak ada yang menandinginya! Sebab pekarangan itu biasa kunikmati saat pulang kampung. Indah memang, tapi penuh duri. Inilah pekarangan bunga mawarku.
***
Kuangkat secangkir teh hangat dari meja kayu jati di depan kursi dudukku. Secangkir teh hangat buatan nenek dengan penuh kasih sayang. Kusesap teh itu sedikit demi sedikit. Kunikmati aroma, serta rasa khasnya sambil mengisap udara segar sore ini, di tengah pekarangan bunga mawar.
Tiba-tiba, di tengah aktivitas meminum teh hangat, aku terkejut melihat seekor kupu-kupu cantik tak berdaya di atas tanah. Kuamati kupu-kupu itu. Ternyata sayap sebelah kanan miliknya robek. Kudapati tanaman mawar di atasnya. Benar saja, sayapnya terkena duri!
Mungkin kupu-kupu itu takkan bisa terbang lagi. Harusnya ia lebih hati-hati. Ini pekarangan mawar, dan mawar penuh duri. Tampak pekarangan tetangga samping rumah. Di sana juga indah, tapi tanpa mawar. Mengapa tak kesana saja? Lalu aku berpikir sambil nyengir: “Hah dasar, bodoh!
Kuminum teh hangat yang sebentar lagi tak bisa disebut hangat karena udara sekitar. Aku jadi teringat dengan kata bodoh. Bukankah aku juga sama dengan kupu-kupu itu? Aku teringat sebuah kenangan itu. Entah itu kenangan manis atau pahit. Aku tidak tahu.
***
            “Tenanglah, aku takkan memaksamu. Persoalan kamu mencintaiku atau tidak, itu urusanmu. Aku hanya ingin kamu mengetahuinya, bahwa aku mencintaimu. Kamu tak perlu memaksakan dirimu sendiri membalas cintaku. Aku bisa melihatmu setiap hari itu sudah cukup. Bila nanti kamu akan menjadi milik orang lain, aku akan diam-diam mencintaimu dan juga diam-diam melupakanmu,” kataku sambil tersenyum kepadanya. Dan kumasukkan buku-bukuku ke dalam tas.
            “Kamu akan terluka,” balasnya.
            “Tidak. Aku akan terluka bila kamu memaksaku berhenti mencintaimu. Antar aku pulang, ini sudah sore. Yang lain juga sudah di lantai dasar. Ayo,” aku menyeret tasnya, dan tetap tersenyum.
            Lalu dia mengantarku pulang. Seperti biasa, ia akan mengatakan, “buruan masuk, aku akan pulang” ketika sampai di depan gerbang.
Jujur, aku butuh kekuatan lebih untuk mengatakan hal-hal yang seperti itu. Dan jujur, rasanya benar-benar sakit di dalam dada.
            Seperti biasa, malam hari, saat kami tak bertemu, dia akan jarang mengirim pesan singkat padaku. Mungkin sejam kita hanya bisa membalas pesan singkat sekitar 5 sampai 6-an saja. Tak seperti yang lain, dalam setengah jam bisa sampai berpuluh balasan pesan singkat. Kadang aku yang mengirimi dia pesan singkat duluan, lantaran aku merindukannya. Meski hari itu kami sudah bertemu.
            Tapi jangan bayangkan, bahwa kami sedang bermusuhan atau bertengkar. Kami ya seperti ini. Inilah hubungan Kami. Rumit.
***
            “Kamu dimana?” Pesan singkat darinya.
            “Aku di kelas, lapar, dan belum sarapan,” balasku.
            “Iya nanti makan.
            “Iya.
            Seperti biasa, cuek. Sebenarnya tak cuek. Dia memang seperti itu, aku sudah hafal. Tapi tetap saja itu menyebalkan. Siang itu aku sudah dibuat kesal lagi. Harusnya dia balas “Iya, ayo makan. Aku jemput ya,” atau kalau tidak dibalas “Aku antar beli makan ya”. Tapi apa balasnya? Andai aku bisa beli sendiri memakai motor, pasti sudah memakainya. Andai tidak sibuk, aku mau beli, walau jalan kaki. Andai tak gerimis, aku tetap mau saja untuk beli.
            Setengah jam kemudian, seorang lelaki datang ke sekumpulanku di kelas itu. Ternyata dia.
            “Cepat ke sini,” panggilnya.
            Aku pun datang menghampirinya. Dia menyerahkan sekantong kresek putih dari dalam tasnya. Aku bingung. Dia menyuruhku untuk melihatnya. Makanan. Ternyata dia sudah membelikanku makanan. Aku tersenyum padanya.
            “Terima kasih,” ucapku.
            “Dimakan, jangan telat terus. Aku pulang duluan.
***
            Pagi ini aku telat masuk kelas lantaran menunggu seorang teman yang biasa menjemput setiap hari. Tapi tidak dengan pulang.
            Aku memasuki kelas. Kelas telah ramai. Tampak dia juga sudah di kelas. Dia melihatku dengan senyum. Hari ini aku ingin duduk di sampingnya, tapi karena telat, kursi di sekitarnya sudah penuh dengan teman-teman yang lain.
            “Duduk depanku,” katanya.
            “Aku mau duduk sampingmu hari ini,” balasku.
            Lalu dia mengambil tasnya, kemudian berdiri dari kursi yang dia duduki. Beranjak keluar dari gerombolan teman-teman disampingnya.
            “Ayo. Mau duduk di mana?” Tanyanya.
            Aku tersenyum bahagia. Kutolehkan kepalaku ke kanan dan ke kiri, ke depan lalu ke belakang. Kulihat ada sisa dua kursi. Di belakang.
            “Di sana,” aku menunjuk dua kursi. Dan kami melangkah ke dua kursi itu.
            Setelah selesai menerima materi, kami pun pulang. Aku masih sibuk memasukkan alat-alat tulis menulis ke dalam tas.
            “Nanti, cari suami yang tinggi, ya. Jangan yang berkulit putih, cari yang sedang. Cari tubuhnya yang sedang juga, jangan kurus, jangan pula gendut. Biar bisa mengimbangi tinggi dan warna kulitmu. Bila ingin punya anak, tiga saja. Biar kamu gak kesepian nanti,” katanya.
            Aku berpikir sejenak. Tinggi? Itu bukan dia. Dia tak begitu tinggi. Dia sama sepertiku. Kulit yang warna sedang? Bukan dia! Dia putih. Tubuh sedang? Juga bukan dia. Kenapa yang dia ucapkan tak sedikit pun ada pada dirinya. Mungkin dia benar-benar tak mencintaiku.
            “Iya,” jawabku sambil tersenyum kepadanya.
            “Pintar,” ucapnya sembari mengusap kepalaku sekali lalu berdiri dan keluar kelas. Namun dia masih menungguku. Aku akan pulang dengannya.
            Kupandangi dia yang sedang memandang langit dengan mata kosong. Aku sampai sekarang tak bisa menebak pikiran dan hatinya.
***
            “Ayolah, sekali saja,” kataku.
            “Tidak mau,” jawabnya.
            “Sekali saja, kumohon.
            “Buat apa?”
            “Buat kenang-kenangan.
            “Dulu kan sudah pernah, bahkan banyak kan foto berduanya.
            “Tapi kali ini kan beda, aku pakai baju tari.
            Setelah memaksanya berfoto denganku, dia pun mau. Meski posenya jelek, tapi aku bahagia. Setelah itu aku berganti baju. Dan dia berias, bersiap untuk tari. Aku menunggunya. Kali ini sama, dia tak mau berfoto denganku. Padahal, bila aku sudah manja akan dituruti. Tapi kali ini tidak. Entahlah mengapa?
            “Bawa ponselku, fotokan aku nanti. Ayo ikut ke depan,” katanya.
            “Baiklah,” aku berdiri dari kursi dengan semangat dan tersenyum.
            Aku mengikuti dia ke tempat keramaian itu. Aku penasaran dengan foto-foto yang sudah dia ambil hari itu. Aku kaget saat itu juga, ternyata dia tadi sudah berfoto dengan wanita yang pernah sangat dekat dengannya. Aku benar-benar iri, mengapa denganku selalu menolak. Aku benar-benar iri. Kuberikan ponselnya pada temanku, untuk memfotokannya.
            Aku pun kembali ke kursi semula dengan lemah lesu, tanpa semangat. Rasanya di dalam dada benar-benar sesak. Dia memandangku, mungkin dia akan bingung dengan sikapku. Tapi mau bagaimana lagi? Aku tak ingin dia melihat mutiara indahku jatuh. Segera kusingkirkan mutiaraku itu. Aku keluar dari keramaian itu.
            Dia pun menghampiriku setelah berganti pakaian.
            “Kenapa diam?” tanyanya.
            “Tidak,” jawabku.
            Dua sahabatku menghampiriku. Dia pasti tahu apa yang terjadi tanpa aku bicara. Dan dia sudah memahamiku.
            “Ayo pulang, aku antar!” salah satu ajakan sahabatku.
            “Biarkan aku yang mengantarnya pulang,” jawabnya.
            “Baiklah, jaga dia baik-baik. Jangan dibuat nangis lagi. Kami duluan ya,” kata salah satu sahabatku, sambil menepuk pundakku.
            Kami pun hanya berdua. Aku diam. Tanpa memandangnya. Dan menaiki motornya. Dia pelankan laju motornya,
            “Kamu menangis?”
            Aku hanya mengangguk.
            “Gara-gara foto berdua?”
            Aku mengangguk lagi.
            “Kan tadi kita juga sudah foto?
            Dan mengangguk lagi.
            “Jadi, ya sudah.
            Aku diam.
            “Aku ingin melihatmu menangis,” katanya sembali nyengir.
            “Senang lihat aku menangis? Aku berusaha menutupi ini darimu, kamu justru ingin melihatnya. Menyebalkan,” jawabku.
            “Jangan menangis. Dia teman. Kalau kamu bukan teman.
            “Lalu?”
            “Musuh,” dia tertawa.
            Aku kembali tersenyum. Seperti biasa, bila sampai depan gerbang dia berucap, “Buruan masuk, aku akan pulang.
***
            Sering. Sangat sering saat malam tanpa ada tugas. Kami berdua keluar. Entah mencari makan atau hanya sekedar duduk berdua melihat keramaian organisasi-organisasi yang sedang melakukan aktivitas saat malam di kampus. Bila dipikir, memang tak ada gunanya hanya sekedar duduk. Tapi ini membuktikan bahwa ada rasa yang selalu ingin bertemu, seperti sebuah cinta. Mungkin. Kupikir ini memang sebuah cinta, tapi nyatanya ini adalah sebuah kebodohan dariku sendiri.
            Ada hati lain yang dia jaga, bukan hanya hatiku. Bahkan setiap menit dia selalu rajin membalas pesan singkatnya. Iya, karena hati yang dia jaga adalah seorang wanita yang sangat dekat dengannya hampir 5 tahun, dan sekarang wanita itu sedang menempuh pendidikan pula di tempat jauh.
            Semua pasti bisa membayangkan posisiku. Ingin bernapas rasanya sesak. Ingin tersenyum rasanya berat. Ingin memejamkan mata rasanya susah. Ingin menangis rasanya, ah buat apa? Sudah jelas ini jalan yang kupilih dari awal, bukan? Dan aku juga sudah mengatakan. Biarkan aku mencintainya.
***
            Malam itu sekitar pukul 23.30 WIB.
            “Buruan tidur,” pesan singkat darinya.
            “Aku menunggu balasan pesan darimu, mengapa selalu seperti ini? Lama. Selalu aku yang menunggu,” balasku.
            “Tidak apa-apa. Sudah, buruan tidur.
            “Selalu tidak dijawab. Aku malas untuk tidur.
            “Kenapa malas?”
            “Kesal sama kamu dan iri pada yang lain. Kadang kamu membalas pesan kepada yang lain cepat dan terlihat akrab. Sedangkan kepadaku, lama dan cuek.
            “Aku tidak cuek.
“Iya aku tau kamu pasti akan jawab seperti itu.
“Aku memang seperti ini. Jangan mengeluh. Kenapa aku membalas pesan singkatmu seperti itu? Jawabnya karena kamu selalu membuatku malas. Memang, aku menyukaimu. Kamu seorang wanita penyabar dalam menghadapiku. Kamu selalu baik kepadaku. Dan kamu juga selalu minta maaf karena kesalahan kecil yang telah kamu perbuat kepadaku. Kamu tau bahwa itu salah dan meminta maaf. Tapi kamu kadang tidak bisa mencari cara agar tak membuatku malas denganmu.
Saat itu juga dadaku benar-benar sesak. Aku hanya ingin menangis. Sering dia berucap bahwa aku selalu membuatnya malas. Tapi aku pun tak pernah tahu apa yang telah kuperbuat sehingga membuatnya malas. Aku selalu berpikir, lebih baik selalu bertemu daripada tidak lalu saling memberi kabar lewat pesan singkat. Karena bila kami bertemu semuanya baik-baik saja. Lalu aku membalas pesan singkatnya.
“Ya sudah, kalau memang aku membuatmu malas. Maaf....
“Cuma begini perjuanganmu untuk mempertahankan?”
“Saat ini aku hanya ingin menangis.
“Menangislah dan segera tidur.
Aku pun benar-benar menangis, dan berpikir. Apa yang harus kulakuka? Hingga tanpa sadar aku tertidur. Pagi pun menghampiri. Pagi ini ada kelas pukul tujuh, aku akan bertemu dengannya di kelas. Tapi aku ingin mengiriminya pesan singkat terlebih dahulu.
“Selamat pagi. Aku sudah berpikir. Aku ingin meminta maaf karena telah membuatmu malas selama ini. Tapi kali ini aku akan berusaha memperbaikinya. Yang kemarin-kemarin biarlah. Setelah kejadian semalam, aku beranggapan hari ini adalah hari pertama. Hari pertamaku untuk mencoba mendapatkan hatimu, dan hari pertamaku untuk membuatmu jatuh cinta kepadaku. Akan aku mulai dari nol lagi. Tolong kerja samanya, ya. Jangan lupa untuk jatuh cinta kepadaku.” pesan yang begitu panjang dariku.
Akhirnya kami bertemu di kelas, dia melihatku sambil tersenyum. Dan dia telah menyiapkan satu kursi disampingnya untukku. Setelah selesai, kami masih duduk bersampingan. Kami mulai saling bercerita, dan dia mulai menceritakan tentang keluarganya. Aku pun dengan senang hati mendengarkan. Lalu, ponselnya berdering. Telepon. Ternyata wanita yang dia jaga hatinya itu.
“Angkat saja tak apa, aku akan pergi keluar. Bila sudah selesai, aku akan kembali ke sini. Angkat saja,” kataku padanya sambil tersenyum.
Dia menutup telepon, dan tidak mengangkatnya. Lalu, berdering kembali. Dari wanita yang sama.
“Sudah kukatakan, angkat saja. Benar, tak apa-apa,” aku tersenyum lalu pergi keluar dan melirik dia mengangkatnya untuk berbicara. Entah apa yang mereka bicarakan? Bukan urusanku.
Setelah selesai, dia keluar menghampiri, dan mengajakku pulang. Hari itu memang gelap. Hujan.
Aku diam kali ini. Dia masih berhubungan dengan wanita itu. Lalu aku berpikir, ada dua hati yang dia jaga. Hatiku dan wanita itu. Lalu hati mana yang akan dia patahkan?
Tiba-tiba dia menyenggol tubuhku hingga kakiku masuk ke dalam genangan air, membuat lamunanku buyar dalam sekejap. Dan dia tertawa. Benar-benar aneh. Dia memang jail. Aku pun marah dan menyuruhnya untuk mengambil motor dan harus menghampiriku. Tapi apa, dia justru pergi sendiri dan bilang, “Aku pulang, kamu hati-hati dijalan ya!” sambil melambaikan tangan kepadaku, aku berteriak kepadanya, dan dia semakin tertawa. Tapi tetap saja dia akan memutar motor lalu menghampiriku.
“Ayo naik,” dengan senyum.
Aku pun tersenyum kepadanya dan naik.
Hati yang tak pernah bisa kutebak.
***
Tiba-tiba sebuah sengatan pada kakiku, seekor semut telah menggigitnya dan membuat lamunanku usai. Ternyata telah lama waktu terbuang untuk melamun. Kupegang cangkirku, dingin. Pasti tehnya sudah tak enak lagi untuk diminum. Aku pun masuk ke dalam rumah. Tubuh terasa sangat dingin, mungkin karena sudah sore bahkan hampir gelap. Dan aku terlalu lama di luar. Mungkin juga karena ini pergantian musim.
Dua hari setelah sore itu, aku sakit. Kurasa ini efek dari pergantian musim. Aku terlalu bodoh tak memakai baju tebal waktu itu. Baru sehari aku sakit, dan tak kunjung sembuh. Seperti biasa, aku sempatkan mengirim pesan singkat kepadanya. Ini adalah liburan. Mungkin libur panjang. Seperti pagi ini.
“Selamat pagi. Semoga harimu cerah kali ini. Sana keluar main, ini hari minggu loh,” pesanku untuknya.
Sekitar pukul sembilan aku mengiriminya pesan singkat. Kulihat pukul dua belas, tapi dia tak membalas. Kulihat lagi sudah pukul satu siang, aku lelah melihat ponsel. Dan aku tertidur. Aku bangun pukul lima sore, lalu segera cuci muka lantaran masih sakit, dan tidak mungkin mandi di sore hari seperti ini.
Malam hari, aku membuka ponsel. Ternyata tadi sore dia telah membalas pesan singkatku. Seperti ini.
“Aku baru pulang memancing, aku tak membawa ponselku”
“Iya tak apa, kamu pasti kelelahan. Kamu istirahat ya. Aku sedang sakit. Maaf aku baru membalas pesanmu, baru buka ponsel,” balasku malam itu.
“Iya tak apa-apa,” balasnya.
Sangat kejam. Kata-katanya terasa jauh lebih sakit daripada tubuhku ini. Memang bodoh aku mencintainya. Sudah cukup. Sepuluh menit kemudian dia kembali mengirimiku pesan, aku memang sengaja tak membalasnya tadi. Buat apa memang?
“Cepat sembuh ya,” pesan singkatnya untukku.
Aku berpikir. Mungkin dia hanya merasa iba kepadaku, hanya seperti itu yang dia katakan. Bodohnya diri ini. Lelaki yang kuidamkan, kupuja, kusayangi, kucinta tak pernah sadar dan tak pernah membalasnya. Jangankan membalas, menoleh sedikit saja ke dalam hatiku pun tidak.

Malam telah berlalu. Hari ini aku tak mengiriminya pesan singkat, dia tak mencariku, dan dia pun tak mengkhawatirkanku, jadi buat apa? Biarlah seperti ini, hingga kebodohan cintaku diam-diam hilang, sirna, dan tak datang lagi. Tentang ucapanku yang akan membuatnya jatuh cinta kepadaku, sudahlah lupakan. Terkadang sebesar apa pun cinta kepada seseorang, akan hilang juga bila cintanya tak pernah dihargai.

1 komentar:

Alamat Kami

Jln. Raya Telang - Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Trunojoyo Madura

Follow Us

Designed lpmsinar Published lpmsinar_fkipUtm