Selamat Datang di Situs Lembaga Pers Mahasiswa Sinar_FkipUtm

Sabtu, 19 Agustus 2017

Jaga Marwah Kampus, Awas Masuk Angin



"Pada akhirnya kalau misalnya sudah ketemu titik di mana kita siap untuk turun, ya nanti akan turun bersama dengan partai-partai politik pendukung ini," Khofifah Indar Parawansah (15/08/2017)

Jalan terjal tengah dihadapi oleh seluruh masyarakat Jawa Timur. Mengingat pada Tahun 2018 nanti akan diselenggarakan pilkada serentak dibanyak kota, kabupaten, dan provinsi di Indonesia, salah satunya di Provinsi Jawa Timur. Para elit politik terus melakukan konsolidasi politik untuk menemukan format yang pas tentang sosok yg akan diusung di pilkada serentak tahun depan. Targetnya jelas, yakni untuk mendulang suara pemilih sebanyak-banyaknya dan memenangkan kontestasi politik di tahun itu. 

Diawali dengan kesediaan Gus Ipul (Syaifullah Yusuf sbg Wakil Gubernur Jatim sekarang) yg diiringi dengan dukungan banyak pihak termasuk berbagai partai politik dan NU. Belakangan ini, muncul nama lain yg telah bersiap untuk ikut bertarung dalam pilgub Jatim tahun depan. Beliau adalah Khofifah Indar Parawansah. Perempuan yang telah dua kali kalah dalam pemilu gubernur Jatim tersebut dan sekarang menjadi Menteri Sosial Kabinet Jokowi-JK sejatinya sudah lama digadang-gadang akan maju kembali dalam pemilu gubernur yang ketiga kalinya bagi dirinya. Namun saat itu khofifah nampaknya baru ingin cek sound atau cek elektabilitas suaranya di Jawa Timur. Tentu khofifah tidak ingin kalah untuk ketiga kalinya. 

Pada akhirnya khofifah semakin memberikan sinyal yang kuat bahwa dirinya akan maju dalam Pemilihan Gubernur Jatim tahun 2018. Dia berkata," "Pada akhirnya kalau misalnya sudah ketemu titik di mana kita siap untuk turun, ya nanti akan turun bersama dengan partai-partai politik pendukung ini,". Tentu secara tersurat tidak ada yang aneh dengan statment bu Menteri, akan tetapi secara tersirat statment ini menunjukkan bahwa cek sound atau cek suara yg beliau maksud telah menunjukkan tanda-tanda yang kuat untuk mendorong dirinya kembali berlaga di panggung politik Jawa Timur. 

Menanggapi kondisi politik hari ini, warga Jawa Timur khususnya kaum Nahdiyyin kembali dihadapkan pada pilihan sulit. Ada dua sosok warga NU yang sangat kuat akan berpotensi head to head di panggung politik Jatim. Cak Imin (Muhaimin Iskandar sbg Ketua Umum PKB), menghimbau agar calon dari NU cukup satu saja (entah siapa yg disarankan mengalah, Gus Ipul atau Bu Khofifah). Sementara warga NU lainnya tidak melihat hal ini sbg masalah. Mereka berpendapat bahwa hal ini sebagai sebuah kewajaran. 

Sampai pada titik nampak cerita ini biasa saja. Sampai pada titik dimana panitia kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Trunojoyo Madura 2017 berniat mengundang Ibu Menteri Sosial (Khofifah Indar Parawansah) sebagai salah satu narasumber dalam kegiatan tersebut. Sepertinya ini hal yg wajar mengingat beliau adalah pejabat negara. Tidak ada masalah bagi pejabat negara memberikan wawasan kebangsaannya kepada Mahasiswa baru. Harapannya adalah agar mahasiswa baru dapat mengambil ilmu yg bermanfaat dari pembicara Ibu Khofifah. 

Namun menugaskan mahasiswa baru untuk mencetak foto-foto Ibu Khofifah tampak sedikit aneh. Apa apa? Sampai disini bukan maksud penulis menuduh itu adalah keputusan resmi panitia kegiatan. Karena penugasan itu bisa diberikan secara legal maupun ilegal oleh oknum tertentu. Tapi tetap saja ini aneh. Puluhan kali pejabat negara datang ke Universitas Trunojoyo Madura (dibaca: UTM), penulis belum pernah melihat sambutan yang begitu spesial seperti kali. Penulis katakan spesial karena jangankan sekelas menteri, Presiden SBY pernah datang ke UTM untuk meresmikan gedung rektorat yang baru saja kala itu tidak ada perintah mencetak foto beliau. Ini sekelas menteri. Why?

Penulis tidak ingin menuduh siapa pun. Tetapi menduga boleh kan. Kuat dugaan bahwa kedatangan Ibu Menteri ke kampus UTM bermuatan politik. Hal ini didasarkan pada beberapa perenungan, antara lain:

1. Sinyal majunya khofifah dalam pemilihan gubernur jatim Tahun 2018 sangat kuat. Terdapat dugaan bahwa kunjungannya ke kampus UTM dalam rangka cek sound atau cek suara pemilih.

2. Kampus UTM adalah salah satu kampus terbesar di Madura. Sementara Madura merupakan pulau dengan mayoritas warganya adalah muslim. Muslim di madura juga banyak terafiliasi dengan ormas NU, dimana beberapa warga Nahdiyyin juga masih menjadi pendukung setia khofifah. Maka kedatangan khofifah jelas seperti berkunjung ke rumahnya.

3. Beberapa pemimpin di kampus UTM maupun panitia kegiatan merupakan kader PMII. Semua orang tahu bahwa Khofifah Indar Parawansah merupakan salah satu kader terbaik PMII. Dia bahkan pernah menjabat sebagai Ketua Umum PMII. Maka dimungkinkan kedekatan ideologis ini kemudian memudahkan dan menjadi pintu masuk khofifah untuk memperluas jaringan pendukungnya.

4. Peserta PKKMB merupakan mahasiswa baru tahun ajaran 2017/2018. Banyak diantara mereka berasal dari Jawa Timur. Mereka rata-rata berumur antara 17 sampai 18 tahun, dimana masuk dalam kategori pemilih pemula pada pemilihan gubernur Jatim Tahun depan. Tentu saja ini menjadi peluang yang sangat massif bagi dukungan khofifah ke depan. Walau pun semua nya masih tetap harus didukung oleh strategi yang jitu. 

Dalam teori komunikasi politik, terdapat teori Teori Jarum Suntik. Teori Jarum Suntik atau Hypodermic Needle Theory yang disebut juga teori peluru atau teori sabuk transmisi. Teori ini berpendapat bahwa seluruh pesan politik yang disampaikan kepada masyarakat (terutama) melalui media massa pasti mempengaruhi pembacanya dan memberikan efek positif. Pembaca dianggap tidak berdaya dan secara pasif akan menerima informasi tersebut. Jika menurut media benar, pasti benar atau semacamnya. Salah satu contoh pengaplikasian teori ini adalah politik pencitraan. Sementara teori Empati dan Teori Homofili berpendapat bahwa komunikasi yang ‘berempati’  serta dibangun atas ‘kesamaan’ (homofili) akan jauh lebih berpengaruh dan efektif. Proses ‘empati’ dilakukan pembicara dengan cara menyelami jalan pikiran target penerima informasi yang disampaikannya. Sedangkan homofili dilakukan misalnya dengan melakukan pemberian informasi kepada massa yang memiliki kesamaan usia, ras, agama, ideology, pandangan politik, dan sebagainya.

Berangkat dari teori di atas, maka mahasiswa baru dapat dikategorikan sebagai salah satu targat dari komunikasi politik tersebut. Mahasiswa baru masih relatif muda dan minim pengetahuan dalam hal politik sehingga akan dengan mudah dan pasif menerima segala informasi yang disampaikan oleh pemberi pesan. Sementara dengan menojolkan kemampuan dialektika intelektual bu menteri akan dapat memenuhi hasrat pengetahuan mahasiswa baru yang relatif masih sangat antusias dengan hal-hal baru. Tentu saja hal ini jika dapat dimanfaatkan betuk oleh pemberi pesan akan menimbulkan empati yang sama antara penerima dan pemberi pesan. Satu hal lain yang dapat dimanfaatkan bu khofifah dalam kesempatan tersebut adalah membangun hubungan sesama jenis. Jika hal tersebut dapat dilakukan maka bukan tidak mungkin bu mensos akan mendapatkan simpati dari kelompok mahasiswa perempuan yg menghendaki pemimpin perempuan di Jawa Timur. Apalagi jumlah mahasiswa perempuan di UTM beberapa tahun belakangan tampak sangat banyak. 

Pada fase selanjutnya, pemberi pesan akan berusaha mengHegemoni penerima pesan. Dengan sadar atau tidak sadar, penerima pesan dalam hal ini adalah mahasiswa baru telah menjadi objek dari upaya hegemoni seseorang atau kelompok pemberi pesan. Tujuannya satu adalah kekuasaan baik dalam arti struktural maupun cultural. 

Dengan indikasi-indikasi kepentingan politik diatas. Dengan didasarkan pada beberapa perenungan, maka patut diduga kedatangan khofifah dalam kegiatan PKKMB tersebut akan dimanfaatkan untuk menghegemoni massa. Pada gilirannya akan terus digiring pada kepentingan politik Jawa Timur. Penulis berharap kampus UTM tidak masuk angin dalam menghadapi dinamika politik di Jawa Timur. Perguruan Tinggi memiliki fungsi dan peran sangat mulia dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia sebagaimana termuat dalam UU NO 12 TAHUN 2012 Tentang Pendidikan Tinggi. 

Beberapa konsekuensi logis yang akan diterima oleh kampus UTM apabila terbukti kuat memanfaatkan aktivitas akademik untuk kegiatan politik praktis, antara lain:

1. Dunia pendidikan menjadi tidak independen, objektifitas dari kebijakan kampus akan rentan diragukan oleh beberapa masyarakat khususnya pendukung lawan politik.

2. Dikucilkan dalam pergaulan sosial karena perannya yang telah melenceng, tidak proporsional, dan cenderung bermuatan politik.

3. Kehilangan jati dirinya yang mulia sebagai kawah candradimuka. Sebagai penengah dari berbagai persoalan sosial melalui pendekatan ilmu pengetahuannya. 

Peran mahasiswa juga sangat penting dalam memberikan peringatan kepada pimpinan kampus. Sampaikan pendapat yang dapat dipertanggung jawabkan apabila dirasa ada yang salah ataupun keliru. Hal tersebut dijamin oleh undang-undang. UU No 12 Tahun 2012 menjamin kebebasan akademik mahasiswa. Maka bersuaralah mahasiswa. Tunjukkan bahwa mahasiswa bukanlah sekedar kumpulan anak-anak yg hendak belajar membaca dan memulis dengan buku dan bolpoin di tangan. Tunjukkan bahwa mahasiswa adalah lebih dari itu. Sekumpulan peserta didik yang dewasa dengan segenap kesadaran akan fungsi dan perannya.

Ancaman ini ada di depan hidung kita semua. Maka berhati-hatilah kampus. Mari jaga marwah lambaga pendidikan kita semua. 

Sekian, jika ada salah kata, diharapkan koreksi dari pembaca semua guna perbaikan ilmu pengetahuan kita bersama di kemudian hari.

Terima kasih
Semoga bermanfaat

Sakaw
Alumni Universitas Trunojoyo Madura

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Alamat Kami

Jln. Raya Telang - Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Trunojoyo Madura

Follow Us

Designed lpmsinar Published lpmsinar_fkipUtm