Selamat Datang di Situs Lembaga Pers Mahasiswa Sinar_FkipUtm

Minggu, 31 Desember 2017

Aku Ingin Berkata, "Kapan Kuliah?"



(Ilustrasi: Google)


“Aku pengen kuliah, Zah. Tapi apadaya, adikku mau masuk SMP, sedangkan kakakku belum bekerja. Apa hanya mengandalkan ibukku yang seorang single parent? Atau memanggil ayahku kembali untuk bangun dari kuburnya supaya aku ada yang membiayai kuliah? Sambil menangis sepanjang perjalanan  berangkat dari kost menuju ke pabrik sepatu yang ada di Jepara. Dan  Zahro sebagai adik sekaligus teman dikost yang selalu menjadi teman curhatku. Keluh kesahku tentang pabrik sepatu yang melelahkan dan juga semangat untuk mengais rezeki yang telah aku usahakan.

“Zah, aku duluan ya. Upper-ku sudah numpuk nih. Nanti bunda Yani marah-marah kalau tidak dapat target hari ini,” sambil berlari menuju mesin yang menjadi partner kerjaku.

Seharian aku semangat demi keluarga di rumah tercinta dan tentunya teruntuk adikku, Nafis.
Bunyi bel istirahat sudah berbunyi, saatnya semua karyawan harus keluar dari lingkungan pekerjaan untuk beristirahat, sholat dan makan, meskipun ada beberapa yang melanggar dari aturan tersebut, tetapi sebagian yang masih menyelesaikan pekerjaannya demi memenuhi target dan mensejahterakan kaum Korea.

“Mbak, Maria. Ayok ke kantin! Jangan mikir kerja terus! Walaupun pekerjaanmu numpuk, tapi mikir kesehatan juga, Mbak. Ok?” Kemudian mbak Maria bangkit dari tempat kerjanya yang penuh dengan tumpuan upper yang melelahkan. “Yok, Nun”. Saling menggandeng tanganku.

Sesampainya di kantin, melihat buruh Korea yang mengenaskan dan penuh dengan penderitaan dari kaum Korea yang mengantre demi mengisi perut yang meronta-ronta karena kejaran target Price Order (PO) dari kaum Korea.

Sesampainya antri di tempat makan, banyak buruh yang mengeluh karena lembur tak tergaji, makanan tak sesuai porsi, bahan rijek, dan sebagainya, inginku memerdekakan mereka tapi apadaya, aku juga buruh kaum Korea demi mencari rupiah yang diperjuangkan untuk kuliah. Padahal setetes keringat sangat berharga dengan mengorbankan anak, keluarga, dan lingkungan sekitar.

Sambel ijo, sayur bening dan tidak kalah pentingnya krupuk tahu yang menjadi pelengkap dan menjadi aliran harmonisku. Sesuap, demi sesuap nasi yang masuk melalui keronkongan telah hilang dicerna oleh ususku yang lapar akan sebuah masukan yang dikejar target-target dari jam tujuh hingga petang yang akan datang.

Bel istirahat kurang 30 menit lagi, aku bergegas ke musala untuk melaksanakn kewajiban menghadap sang Lillah yang memberiku kekuatan untuk menghadapi marahan, cacian yang berada dilingkungan itu.

“Uh. Alhamdulillah....” Sambil mengembuskan napas panjang untuk membuang semua penat, lelah dan temannya setelah terlaksananya kewajibanku.

Waktu menunjukkan 12.55 WIB aku segera bergegas menuju ke tempat kerja yang dipenuhi dengan tong yang menjadi semangatku untuk mengejar target 100 pasang sepatu perjamnya.

“Nul,” panggilan sayang dari teknisiku, bu Yani yang menjadi orang tua, musuh, sekaligus temanku selama dipabrik sepatu itu.

”Iya, ada apa, Buk?” Jawabku sambil menjahit atasan sepatu yangpenuh variasi.

“Sudah dapat berapa, Nul?”

”Baru 95 pasang, Buk.” Sambil fokus dengan bahan sepatu yang penuh dengan perhatian. menengok bu Yani yang berjalan gesit menuju cell 2.

“Syukur ya mbak. Cell kita dapat target, apa kata jika cell kita tak dapat target, bagaimana hidup ini, cell ini? Bu Yani pasti marah besar, ya Mbak.” Sambil gurauan dengan output sewwing cell6.

“Nun.” Output sewwing menghampiriku, dan aku sejenak menghentikan pekerjaan.

”Nun. Bu Yani manggil kamu tuh?”

“Kenapa ya mbak, apakah ada yang salah dari jahitanku, ya Mbak?”

“Iya, kayaknya, margin jahitanmu melebihi ukuran deh.”

Akupun mendatangi bu Yani dibawah office admin keuangan, dan di situlah bu Yani marah besar terhadapku, melihat jahitan yang mau tutup PO turun dari QC (quality control), sebanyak 200 pasang sepatu. Dan saya mencoba menjelaskan kembali bahwa itu bukan jahitan saya, tapi dari cell lain, setelah ditelusuri memang dari cell lain. Selama 2 jam demi menelusuri dan menyita waktu bekerjaku, pengawas cellku memanggilku, “Nul. Balik”. 

“Iya teh, sebentar”. Teh nanik selakupengawas yang mau naik darah segera mengajakku untuk kembali bekerja, yang sudah jembek melihat tumpukan upper yang memenuhi meja kerjaku. Akupun segera bergegas dan mempercepatnya menjadi 1700/jam sungguh, itu kecepatan yang belum saya coba selama 3 bulan bekerja di pabrik ini. Dan syukurnya pekerjaan selesai sampai menunjukkan pukul 05.00 WIB, segeralah aku pamit izin pergi mengambil wudu untuk menunaikan kewajiban salat asharku yang aku tunda demi duniaku.

Lima menit usai menunaikan kewajiban, sambil mendengarkan ocehan ibuk clining service yang  sedang duduk-duduk makan di ruang WC dekat tempat wudhu.

“Ibuk, aku duluan ya.”

“Iya nduk, seng semangat njeh.”

“Mbak. Sudah selesai sholatku.” Outputku yang bernama mbak Ratna, sambil memakai topi pabrik. Dan ia hanya menganggukkan kepalanya karena sibuk dengan rekapan tutup PO.

Hari ini aku lembur sampai jam 21.00 WIB, inginku tidak ikhlas tapi apadaya aku memikirkan ke belakang masih ada orang tersayang yang butuh akan rupiah ini, yang menjadikan semangatku tumbuh kembali, dan di situlah aku mersa sedih ingin menimba ilmu di perkuliahan.

“Capek sekali hari ini,” sambil rebahan dan meluruskan punggung yang penuh dengan beban target dari pasangan sepatu.

“Gimana mbak, jadi kuliah tidak?” Tanya Zah dengan tiduran disampingku. Aku pun duduk dari tempat tidur.

”Entah, Zah, Allah belom mengizinkan untuk menginjakkanku di perkuliahan.” Sambil kipas-kipas dengan data target.

“Kalau kamu bagaimana, Zah?” Sautku dari depan lemari baju. Dia hanya tersenyum dan mengangkat bahunya, menandakan bahwa dia juga ingin kuliah tapi, bingung juga soal biaya.

Dan setelah penat, capek hati, pikiran dan omongan yang berada di pabrik, segeralah aku mengambil handuk dan bergegas untuk mandi supaya beban yang ada dipundak setidaknya tidak terpikirkan untuk tidur.

“Ainun mana?” Terdengar dari tempat salat, ibu kost yang menanyakan ke mbak Fita juga, teman kostku.

Akhirnya aku bergegas menemui ibu kost, ternyata hari itu dapat makan gratis dari ibu kost yang habis hajatan karena mendapat menantu baru.

“Suwon ya, Buk.” Sambil menerima makanan yang diberikan kepada ibu kostku.

Waktu sudah berlarut malam, teman seperjuanganku sudah berada di bawah alam sadar, tapi mata ini belum saja ingin menutupnya, karena tebersit akan kata “kuliah”,  sehingga aku membuka link PTN yang berada di seluruh Indonesia. Dari UGM, UNNES, UI, ITB dan PTN yang ada di Indonesia. Tak terasa air mata menetes jatuh ke bantal berwarna hijau lumut dan teringat akan diriku sesosok tulang punggung yang menjadi sandaran kebahagiaan mereka.

Sambil melihat foto ayah, “Ayah. Aku akan sukses, demi melanjutkan perjuanganmu ini, walaupun aku ingin menginjakkan kakiku di perkuliahan”.



*Penulis Umian, Mahasiswa PGSD Angkatan 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Alamat Kami

Jln. Raya Telang - Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Trunojoyo Madura

Follow Us

Designed lpmsinar Published lpmsinar_fkipUtm