Selamat Datang di Situs Lembaga Pers Mahasiswa Sinar_FkipUtm

Jumat, 09 Oktober 2015

Menghidupi Pancasila yang telah Mati


            Pancasila bukan lagi hal baru bagi rakyat Indonesia. Semua sendi-sendi negara ini diambil dari nilai-nilai Pancasila dan tidak boleh keluar dari itu. Aktivitas manusia tentunya tak bisa lepas dari Pancasila dan UUD’45. Hampir semua rakyat Indonesia hafal di luar kepala bunyi dari Pancasila. Bahkan di setiap gedung pemerintahan dan sekolah telah bertengger burung garuda di jajaran paling atas melebihi presiden. Namun kenyataannya saat ini Pancasila telah mati. Salah satu bukti matinya Pancasila juga menyentuh dunia pendidikan yang pada dasarnya merupakan elemen paling dekat dengan Pancasila .
            Pancasila dikatakan mati hanya saat diucapkan setiap kali upacara bendera, Pancasila dikatakan mati saat masih banyak anak-anak yang memenuhi bus kota untuk meminta belas kasihan melepas sekolahnya dan Pancasila dikatakan mati kala banyak kekerasan masuk dalam dunia pendidikan. Pendidikan dewasa ini sedikit demi sedikit telah tersesat dari ideologi Pancasila. Banyak yang telah mengetahui konsep Pancasila namun pengetahuan tersebut belum merujuk ke dalam inti sari Pancasila itu sendiri.
            Pancasila sebagai dasar negara tak ayal berubah sebagai benda kusam peninggalan leluhur. Segala sesuatu yang terkandung dalam sila suci itu tak ubahnya jadi tontonan. Hilir mudik individu melupakan jejak sejarah mereka. Tak terhitung generasi emas bangsa gugur berjatuhan. Bukan karena mereka kalah dalam perang dengan penjajah yang mengakibatkan mereka jatuh. Namun lebih karena mereka jatuh akibat mental mereka sendiri.
Pancasila telah ada semenjak 1 Juni 1945 namun beberapa dekade terahir banyak terlihat bukti matinya Pancasila. Seperti pidato yang disampaikan wakil ketua pengkajian MPR RI Hasanudin pada peringaratan hari lahir Pancasila yang dilaksanakan di Blitar kemarin. Hasanudin menuturkan bahwa Pancasila adalah konsensus dan cita-cita bangsa, sehingga Pancasila harus dimaknai sebagai petunjuk arah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Maka jelas terlihat saat kiblat Indonesia terlebih dunia pendidikan saat ini lebih mengarah pada dunia kebaratan maka petunjuk itu mulai merapuh. Pancasila bukan lagi menjadi petunjuk arah satu-satunya saat kaca pendidikan mulai mengarah pada titik lain yang melenceng dari naruni bangsa.
Pendidikan merupakan salah satu wadah untuk menghidupi kembali matinya pancasila. Pancasila yang telah ada menjadi sangat penting saat tetap dijadikan poros utama dalam pelaksanaan sitem kependidikan. Secara yuridis, Pancasila sesuai dengan Undang-Undang nomor  12 tahun 2011 sebagai sumber dari segala sumber hukum dan secara sosiologis Pancasila mampu beradaptasi dengan perubahan. Maka pendidikan saat ini benar-benar harus menggali hakikat Pancasila yang sesungguhnya dan tidak terjebak dalam westernisasi (kebarat-baratan) yang jelas-jelas bukan kepribadian Indonesia. Sifat Pancasila yang tidak kaku kembali dihidupakan sebagai acuan utama dalam dunia pendidikan.
Pendidikan bukan lagi menjadi wahana agar terlihat keren dan mencari eksistensi belaka kala yang digunakan adalah nilai Pancasila yang sesungguhnya. Saat Pancasila mampu kembali hidup dari setiap sendi-sendi pendidikan di penjuru negeri ini mengalahkan weternisasi yang kian menjamur di situlah letak Pancasila sebenar-benarnya. Mental anak-anak negeri harus digodok samapi matang supaya tidak terjerat arus perubahan. Pembenaran mental yang telah melenceng dilakukan sedini mungkin. Sehingga Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 Bab 2 tentang sistem pendidikan nasional yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang terlaksana dengan baik. Pancasila bukan lagi hanya mampu dilafalkan namun diimplementasikan dalam proses pendidikan di Indonesia. Maraknya anak putus sekolah kian bisa teratasi karena pendidikan bukan hanya untuk kaum elit negeri saja dan kekerasan dalam dunia pendidikan tidak lagi terlihat karena masing-masing punya pedoman yang sama.

Tidak mudah menghidupkan kembali Pancasila yang tergeser perubahan. Butuh sebuah kejelasan tekad dan kerjasama multidisipliner dari semua pihak. Indonesia mempunyai nilai gotong royong yang menjadi ciri khasnya. Masih bisahkah rakyat menghidupkan Pancasila dengan bergotong royong dan bahu-membahu ditengah arus westernisasi yang merajalela??

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Alamat Kami

Jln. Raya Telang - Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Trunojoyo Madura

Follow Us

Designed lpmsinar Published lpmsinar_fkipUtm