Selamat Datang di Situs Lembaga Pers Mahasiswa Sinar_FkipUtm

Sabtu, 23 Mei 2020

Dibalik Keterlambatan Bantuan Mahasiswa yang Dijanjikan


Warta Sinar - Menjelang akhir perkuliahan semester genap tahun 2020, bantuan dana sebesar Rp. 150.000,- yang dijanjikan kepada mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) dalam menunjang perkuliahan daring selama pandemi covid-19 belum juga menemukan titik terang. Pasalnya, semenjak dikeluarkannya Surat Edaran Rektor nomor B/1022/UN46/HM.00.06/2020 pada tanggal 15 April lalu yang berisi tentang bantuan dana untuk mahasiswanya, hingga saat ini masih menjadi pertanyaan. Terhitung sudah lebih dari satu bulan semenjak dikeluarkannya surat edaran tersebut.
Keresahan para mahasiswa mulai diutarakan melalui berbagai media. Hingga  oleh salah seorang mahasiswa UTM membuat sebuah petisi tentang pengembalian Uang Kuliah Tunggal (UKT) sebesar 50%. Mendadak petisi itu menjadi viral dan mendapat banyak respon dari kalangan mahasiswa. Namun sayangnya, upaya tersebut masih belum mendapat tindakan lanjutan dari petinggi UTM. Bahkan informasi lebih lanjut terkait hal ini masih minim sekali. Pihak terkait masih sulit untuk dihubungi, termasuk pimpinan Fakultas Ilmu Pendidikan.
Hasil wawancara Wakil Rektor 2 UTM via Whatsapp (20/3), mengenai alasan kenapa bantuan tersebut tidak kunjung turun dan kapan bisa terealisasikan, narasumber hanya memberi jawaban "Prosesnya mulai dari penetapan kebijakan oleh pimpinan, survey operator/provider handphone oleh TIK, legal opinion di kejaksaan, revisi Dipa di perencanaan, kerjasama dengan provider, proses lelang/pengadaan di ULP, penunjukan pemenang oleh ULP, pengiriman anggaran ke pemenang oleh BUK, pendistribusian paket data oleh provider ke nomor handphone masing-masing." Tindakan yang sekarang sedang dilakukan pihak UTM masih pada tahap pengadaan di ULP.
Amrin Razali selaku Sekretaris UPPBJ UTM UKPPBJ Kemendikbud RI dalam wawancara dengan kami via Whatsapp (21/5), menyebutkan bahwa salah satu penyebab bantuan tersebut hingga sekarang belum tersampaikan karena surat dari UTM yang dikirimkan pada tanggal 30 April 2020 baru dibalas pada tanggal 18 Mei 2020 oleh Kemendikbud RI. "Balasan surat dari Kemendikbud RI kepada UTM terkait Pengadaan paket data baru dibalas tanggal 18 Mei 2020 (surat dari UTM tanggal 30 April 2020)." Surat tersebut berisikan tidak adanya peraturan yang menyatakan bahwa pemberian paket data kepada mahasiswa melalui proses pengadaan dan sifat pengadaan untuk mahasiswa yang tidak jelas apakah masuk kategori sesuai Pasal 38 dan 59 dalam Perpres 16 2018 tentang PJB Pemerintah.
Selain itu Amrin Razali juga menyebutkan hal lain yang membuat bantuan tersebut belum juga tersampaikan adalah masih banyaknya kesalahan dalam pengisian data oleh mahasiwa, seperti NIM yang berbeda akan tetapi nomor yang diisikan sama, jumlah digit nomor handphone yang berlebih, dan penulisan jumlah digit benar namun tidak sesuai dengan nomor provider. "Sampai saat ini sedang melakukan pengecekan kebenaran nomor seluler mahasiswa/i yang terdapat kesalahan dari pengisi data seperti; NIM berbeda tapi No HP sama, No HP jumlah digit ya sama berlebih (masih terkonfirmasi oleh 2 provider), dan No HP salah (jumlah digit benar tapi tidak sesuai dengan nomer provider)." Hingga saat ini baru selelsai dengan 2 provider.
Berdasarkan hal tersebut, bantuan yang akan diberikan kepada mahasiswa UTM adalah berupa paket data. Gubernur Fakultas Ilmu Pendidikan Moh. Nour Hidayat memberikan tanggapan terkait hal ini, "UTM masih terkesan lambat dalam mengambil tindakan, seandainya UTM memberikan transparansi informasi terkait tahapan yang sedang dilakukan, mungkin itu masih bisa dimaklumi meskipun cairnya lama."
Bukan hanya dari kalangan mahasiswa, salah seorang Dosen FIP yang tidak mau disebut namanya juga ikut menanggapi terkait hal ini, "Terus terang ya, saya lebih setuju penurunan UKT daripada subsidi pulsa ini, karena kalau penurunan UKT sudah jelas kan memang terkait kelangsungan perkuliahan." (Iq/Lut)

Read more ...

Rabu, 22 April 2020

CORONA VIRUS, SEMAKIN SERIUS!


           Wabah COVID-19 atau yang sering juga kita dengar dengan Virus Corona tengah berlangsung di berbagai negara di dunia. Sebenarnya apa itu COVID-19? Menurut WHO ( World Health Orgnaization), COVID-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Corona Virus yang paling baru ditemukan. Virus dan penyakit baru ini tidak diketahui sebelum wabah dimulai di Wuhan, China pada bulan Desember 2019. Pada manusia Virus Corona diketahui dapat menyebabkan infeksi pernafasan mulai dari flu biasa hingga penyakit yang lebih parah seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).  Penyakit ini dapat menyebar dari satu orang ke orang lain melalui tetesan kecil dari hidung atau mulut yang menyebar ketika seseorang dengan COVID-19 batuk atau bersin. Tetesan ini mendarat pada benda dan permukaan di sekitar orang tersebut. Orang lain kemudian terpapar COVID-19 dengan menyentuh benda atau permukaan tadi, lalu tanpa sadar menyentuh mata, hidung atau mulut mereka. Orang-orang juga dapat terpapar COVID-19 jika mereka menghirup tetesan dari seseorang dengan COVID-19 yang batuk atau bersin. Inilah sebabnya mengapa penting menggunakan masker dan tetap jaga jarak lebih dari 1 meter ( 3 kaki) dari orang yang sakit.
            Sejalan dengan himbauan dari WHO, beberapa negara yang mengalami pandemi COVID-19, termasuk Indonesia mengeluarkan kebijakan sosial distancing dan karantina di rumah masing-masing. Pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan sosial distancing pada pertengahan Maret 2020 untuk mengurangi penyebaran dari COVID-19. Berbagai kegiatan dilakukan dari rumah, seperti bekerja dari rumah (work from home) dan belajar dari rumah (learn from home). Oleh karena itu, berbagai Lembaga Pendidikan baik di tingkat sekolah maupun perguruan tinggi mengubah metode pembelajaran, menjadi daring (dalam jaringan).
         Belajar dalam jaringan merupakan solusi paling efektif pada saat ini, karena dapat mendekatkan yang jauh sehingga kegiatan belajar tetap dapat berlangsung. Berbagai aplikasi mulai digunakan sebagai media komunikas dalam kegiatan belajar seperti Google Classroom, Edmodo, Zoom, Quipper hingga WhatsApp dan masih banyak lagi. Penggunaan platform belajar ini tidak serta merta dapat menunjang sepenuhnya kegiatan pembelajaran, banyak hambatan yang dirasakan oleh peserta didik selama pembelajaran daring terutama bagi mahasiswa. Tidak semua materi bisa disampaikan atau digantikan dengan teknologi, terdapat beberapa mata kuliah yang memang hanya dapat dipelajari oleh adanya kegiatan praktik di lapangan, dan tidak bisa ditukar oleh teknologi apapun. Kegiatan praktikum merupakan ibadah yang wajib dilaksanakan oleh mahasiswa, terkhususkan bagi fakultas-fakultas sains dan teknologi.  Misalnya dalam kegiatan praktikum mengamati kandungan tanah yang biasanya dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Pertanian membutuhkan perlakuan-perlakuan tertentu dan melakukan hal-hal semacam penelitian di laboratorium serta wawancara lapangan yang pada dasarnya hanya dapat dilakukan di lapangan atau luar jaringan.
            Salah satu yang menjadi kendala lainnya pada pembelajaran dalam jaringan yaitu, kesulitan dalam mengakses internet, karena tidak semua peserta didik memiliki kecepatan akses internet yang sama.  Pada saat pembelajaran dengan menggunakan aplikasi online zoom misalnya, pembelajaran ini dilakukan secara tatap muka melalui panggilan video yang mengharuskan semua peserta didik hadir pada waktu kegiatan pembelajaran berlangsung. Akses internet yang sulit akan menghambat siswa dalam memperoleh materi yang sampaikan. Sehingga tujuan kegiatan pembelajaran tidak tercapai secara maksimal. Ditambah lagi belajar dalam jaringan mengharuskan peserta didik memiliki kuota internet, hal tersebut menyebabkan penambah pengeluaran yang tidak sedikit.
            Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim juga mengeluarkan kebijakan karena pandemi COVID-19 ini bersama dengan Komisi X DPR RI, Syaiful Huda. Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) 2020 untuk tingkat SD, SMP dan SMA sederajat di seluruh Indonesia resmi dihapus. Kebijakan tersebut didasarkan atas penyebaran COVID-19 yang kian masif, UNBK pada tingkat SMA yang awalnya dijadwalkan 30 Maret ditiadakan. Begitu juga pada tingkat SMP yang dijadwalkan paling lambat pada akhir bulan April dengan tujuan utama yaitu melindungi siswa dari COVID-19. Dana yang dianggarkan untuk pelaksaan UNBK dialihkan untuk menangani pandemi yang tengah berlangsung di tanah air atau membantu online learning. Beberapa opsi menjadi pilihan sebagai pengganti UNBK dalam menentukan kelulusan siswa, adapun menggunakan hasil Ujian Sekolah Berbasis Nasional atau nilai kumulatif setiap semester selama 3 tahun dari peserta didik. Hal tersebut juga berdampak pada Penerimaan Peserta Didik Baru, perlu adanya nilai standar atau setara yang berlaku universal untuk menyeleksi murid baru sehingga semua peserta didik memiliki hak dan kesempatan yang sama.
            Pandemi COVID-19 ini tiap harinya terus mengalami peningkatan, protokol kesehatan dan edukasi mengenai  Virus Corona gencar disosialisasikan pada media massa. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mempersempit penyebaran COVID-19. Kesadaran masyarakat akan kebersihan dan sosial distancing semakin ditingkatkan. Berkerja dan belajar dari rumah merupakan alternatif untuk saat ini. Sesuatu yang baru terkadang memang sukar diterima dan sulit diadaptasi, tetapi perubahan yang terjadi saat ini didasarkan atas keamanan setiap individu. Oleh sebab itu pentingnya untuk berada di rumah saja karena hal tersebut merupakan yang paling aman untuk  memutus rantai penyebaran dari COVID-19 dan tetap menjaga kesehatan serta ketahanan diri. Semoga pandemi ini segera berakhir dan segala sesuatu dapat berjalan normal seperti sebelum-sebelumya (sya).





Read more ...

Jumat, 20 Maret 2020

Wabah Corona Sebabkan Terhambatnya Kegiatan Kemahasiswaan



Doc. www.google.com



Warta Sinar - Empat hari setelah diberlakukan surat edaran dari  Rektor Universitas Trunojoyo Madura tentang kesiapan dan pencegahan penyebaran infeksi Corona Virus Disease (COVID-19) di lingkungan Fakultas Ilmu Pendidikan, menimbulkan berbagai keluhan dari kalangan mahasiswa. Beberapa dari himbauan tersebut berbunyi 'perkuliahan dapat dilakukan secara daring atau online', 'seluruh mahasiswa agar tetap berada di lingkungan kampus', dan 'pelaksanaan pembukaan Dies Natalis VI FIP UTM ditunda sampai dengan adanya pemberitahuan lebih lanjut'. Surat edaran tersebut mulai diberlakukan pada tanggal 17 Maret 2020.
Himbauan tersebut menimbulkan berbagai tanggapan dari kalangan mahasiswa. Salah satunya adalah fasilitas mahasiswa dalam melakukan kuliah online kurang memadai, sehingga banyak dari mereka yang kebingungan mencari jalan keluar. "Agak was-was dengan pengerjaan tugas secara online, takut tidak terkirim. Kalau sinyal bermasalah alhasil telat ngumpulin. Dan lagi eman-eman mata kita yang harus stay tube dengan layar handphone." Ujar Mila salah satu mahasiswa Pendidikan IPA.
Hal ini juga menghambat kinerja Ormawa FIP dalam menjalankan program kerjanya. "Kegiatan kami di bulan April yang menunggu itu lumayan banyak, apabila kegiatan di bulan ini mundur juga, otomatis kegiatan kami di bulan April mengalami penggemukan." Ujar Ashab Ketua Umum HIMAPIF 2020. Kegiatan Dies Natalis VI FIP yang seharusnya dilaksanakan hari Rabu kemarin tanggal 18 Maret 2020 harus ditunda sampai adanya pemberitahuan lebih lanjut. Namun menanggapi hal tersebut, pihak panitia sudah menyiapkan rencana demi berlangsungnya acara tersebut.
"Hasil rapat kami bersama tim Mahasiswa menghasilkan plan A dan plan B. Ketika wabah corona sudah dinyatakan selesai setelah tanggal 31 Maret, maka plan A nya adalah kami akan melaksanakan kegiatan ini di bulan April. Apabila wabah virus Corona ini masih belum mereda, maka plan B nya adalah kami akan melaksanakan kegiatan ini dengan konsep sederhana dan mengurangi jumlah Mahasiswa." Ujar Fikri Nazarullail, S. Pd., M. Pd  selaku ketua pelaksana.
Gubernur FIP 2020 Moh. Nour Hidayat juga menanggapi terkait peristiwa ini, "mungkin cukuplah libur dua minggu itu, kalau ditambah lagi sepertinya kurang efisien. UTS belum terlaksana, dan kalau ditambah lagi kita akan menghadapi bulan ramadhan, pastinya kegiatan kemahasiswaan juga dibatasi." (Iq)

Read more ...

Hukuman yang mati


Hukuman yang mati
Oleh: Siti Munajah



Panas matahari kali ini sangat menyengat. Mahfud seorang guru agama di sekolah Aliyah sedang berada di dalam kantor, saat itu dia sedang duduk di kursinya, karena kegerahan dia membuka jendela dekat mejanya. Ketika membuka jendela dia melihat siswa-siswanya memakai peci tanpa alas kaki, tengah berlarian setelah melaksanakan sholat dzuhur. Mereka mempercepat gerakannya karena menghindari panasnya lapangan. Siswa-siswa itu mengingatkan mahfud ketika masih menjadi seorang santri di pondok pesantren. Mahfud terhanyut oleh lamunannya.
***
“Ah ini kembar sama sandalku yang hilang kemarin” kata Mahfud saat berada di latar masjid, setelah melakukan sholat berjamaah. Setelah itu larilah Mahfud menuju kelasnya, selang waktu 30 menit teman-teman sudah memenuhi bangku kelas yang tadinya hanya berisi Mahfud seorang diri. Teman sebangku Mahfud menatap kakinya.
“Fud sandalmu udah ketemu?” kata Anas teman sebangkunya sambil menatap  ke kaki Mahfud.
“Ini bukan sandalku nas aku tau rasanya sandalku, ini sandal santri lain mirip punyaku jadi aku ambil,” Mahfud berbisik di telinga Anas karena takut kedengaran santri lain.
Anas kaget "Kamu ngawur fud, tadi kiyai said kehilangan sandal kuwatirnya sandal yang kamu ambil milik pak kiyai"
Mahfud kaget, "matilah aku pak yai pasti tau aku pencurinya".
"Pak yai itu bisa menerawang siapa pencurinya matilah kau fud, apalagi setelah ini pelajaran pak yai." jawab Anas.
Salam pak yai menghentikan percakapan Mahfud dan anas.
"Assalamu'alaikum wr.wb." Pak yai sambil duduk di atas kursi guru.
Mahfud langsung melihat telapak kaki pak yai. Kemudian dia berbisik di Anas "Nas pak yai tidak beralas kaki."
"Kamu sembunyikan kaki mu ke dalam jangan sampai ketahuan." Anas dengan suara yang kecil mengatakan itu.
Santri yang ada di bangku terdepan bertanya "yai itu kenapa sandalnya hanya diletakkan di atas meja sedangkan pak yai tidak beralas kaki".
"Ini mau ngasih sandal ke mahfud." Kiyai menuju bangku Mahfud meletakkan yang baru dan masih tertempel nomer ukurannya.
Mahfud hanya tertunduk untuk bilang terimakasih rasanya sangat malu. Tapi karena tidak kuat menahan rasa bersalah Mahfud maju ke bangku pak yai dan menangis dengan mengembalikan sandal curiannya serta sandal pemberian pak yai. Desak tangis Mahfud menggelegar di ruang kelas.
"yai, maafkan aku telah mengambil yang bukan hak milikku, aku mengaku bersalah dan ini aku kembalikan sandal pak yai serta sandal baru ini aku tidak pantas mendapatkannya," kata Mahfud sambil menangis.
"Sudah jangan menangis Mahfud, sandal baru ini sudah jadi hak milikmu untuk sandal lama pak kiyai terimakasih sudah berani mengakuinya bapak kagum sama Mahfud," sambil merangkul Mahfud dan mengusap air mata Mahfud.
"Aku rela di hukum apa saja untuk menebus dosa ku pak yai."
"Tidak usah, cita-cita mu besok ingin jadi apa?" Tanya pak kiyai.
"Aku ingin jadi seperti pak yai," jawab Mahfud dengan bercampur suara tangisannya.
***
Lamunan Mahfud terhenti, dia tersenyum mengingat kejadian itu. Tidak menyangka perkataannya ingin menjadi seperti kiyai menjadi kenyataan, membawanya menjadi pengajar walau saat ini bukan di pondok tapi di sekolahan madrasah Aliyah sekitar kampungnya. Mahfud kembali duduk di bangkunya dan melanjutkan menilai hasil pekerjaan para murid.
 Cara pengajaran di pondoknya dulu menjadi tauladan Mahfud ketika menjadi guru. Dia akan memukul jari-jari murid-muridnya menggunakan stik drumband jika kukunya tidak di potong, dia akan menyuruh muridnya naik turun tangga jika tidak mengerjakan tugas sekolah dan masih banyak lagi.  Mahfud tidak pernah menghukum tanpa kejelasan. Selalu ada sebab yang jelas dalam pemberian hukuman pada murid-muridnya.
Tapi kali ini berbeda, ada wali murid yang datang ke sekolah marah-marah mencarinya. Wali murid itu menggunakan seragam polisi, dia datang membawa rombongan berjaket kulit dengan membawa map coklat beserta borgol yang di gantung di salah satu celana orang berjaket kulit.
"Dimana yang namanya pak Mahfud ",  wali murid yang masih berseragam polisi  berteriak-teriak di kantor guru.
Kepala sekolah menemui wali murid tersebut "tenang pak, ada apa ini ?" sambil mempersilahkan wali murid itu beserta rombongannya untuk duduk dulu menjelaskan perihal apa yang terjadi.
"Mahfud dimana?" Tanya wali murid pada kepala sekolah.
"Mahfud mengajar pak. Anda jelaskan dulu kepada saya apa yang terjadi?" Jawab kepala sekolah.
"Mahfud telah menampar anak saya pak" dia memberikan ponselnya ke kepala sekolah agar kepala sekolah melihat foto pipi anaknya setelah ditampar Mahfud.
"Mahfud bukan guru yang sembarangan dalam menghukum siswanya pasti ada akibat yang belum Anda ketahui pak" balas pak kepala sekolah.
Salah satu rombongan berjaket kulit menjawab pernyataan pak kepala sekolah "Hari ini kita sudah membawa surat penangkapan untuk pak Mahfud untuk penjelasan sebab pak Mahfud menampar bisa dijelaskan di kantor polisi".
Berdirilah pak kepala sekolah dari bangkunya mengajak rombongan menemui Mahfud "Mari saya antar ke pak Mahfud".
Setelah berada di depan kelas kepala sekolah tidak mengizinkan rombongan polisi  untuk masuk ke dalam kelas, karena kepala sekolah khawatir seluruh murid berfikir yang tidak-tidak.
Pintu diketuk oleh kepala sekolah Tok tok tok " Assalamu'alaikum Pak Mahfud ini saya pak Arif".
"Masuk pak" balas Mahfud.
Pak kepala sekolah menanyai dengan berbisik pelan ke Mahfud "Kamu di cari polisi gara-gara menampar Doni, aku tau pasti kamu punya alasan melakukan itu".
Mahfud menjawab "Doni kemarin aku tampar karena telah meraba-raba teman perempuannya dengan berkata jorok tanganku sengaja menampar pipi  Doni" Kepala sekolah mempercayai apa yang dikatakan Mahfud karena Mahfud sudah menjadi guru selama 10 tahun di sekolahnya jadi, dia sangat mempercayai Mahfud. Dibawalah Mahfud oleh segerombolan orang berjaket kulit dengan diborgol tangannya dan digiring oleh wali murid berseragam polisi. Karena ayah Doni berpangkat tinggi dalam  kepolisian, meskipun Doni bersalah Mahfud tetap dipenjarakan. Berakhirlah Mahfud dijeruji sedangkan Doni masih tetap bertingkah semaunya.
Kepala sekolah yang sedang di dalam kantor melihat Doni dari balik jedela dia teringat Mahfud yang ada di dalam jeruji penjara. Saat pak kepala sekolah meyaksikan Doni yang tengah mengikuti pelajaran olahraga saat itu pak kepala sekola melihat Doni menjaili anak perempuan.
"Kembalikan jilbabku Doni" dia menangis sambil menutupi wajahnya.
"Hahaha itu rambut apa sapu ijuk hahah" balas Doni dengan tertawa terbahak-bahak mempermalukan rambut si anak perempuan itu.
Pak kepala sekolah yang dari tadi menyaksikan kelakuan Doni tidak kuat beranjak berdiri mau menjewer Doni tapi dia menghentikan langkahnya, mengingat takut akan berakhir di jeruji. Dia menutup tirai jendela dan mengabaikan kejahilan Doni.




Read more ...

Senin, 02 Maret 2020

Problematika Transparansi AD/ART Ormawa FIP



Doc. SINAR


WARTA SINAR - Telah terjadi perdebatan antara pengisi materi 'Dasar-dasar Organisasi' yaitu Totok Setiawan dengan peserta LKMM Akbar BK FIP, Minggu(1/3). Kejadian ini berawal dari pemateri yang meminta file AD/ART setiap ormawa BK FIP melalui bantuan panitia pada hari Jum'at(28/2), pukul 21.17 WIB. Alasannya karena hal ini bersangkutan dengan materi yang akan disampaikan pada hari kedua LKMM. Namun beberapa ormawa menyampaikan ketidaksetujuannya dengan hal tersebut, karena khawatir AD/ART mereka disalahgunakan. "AD/ART itu dapurnya setiap UKM/HMP kalau disebar luaskan siapa yang akan menjamin?" Ujar Budi (ketum UKM-F Teater Sabit).
Dari materi yang disampaikan, Totok Setiawan menyebutkan bahwa salah satu transparansi organisasi adalah mahasiswa FIP berhak untuk tahu AD/ART setiap Ormawa di FIP. Pemateri juga menegaskan bahwa, "Sebagian dari fasilitas yang kalian gunakan itu adalah urunan dari publik. Pengurus BK wajib menyampaikan informasi seluar-luasnya untuk mahasiswa FIP". "AD/ART bukan barang haram yang tidak boleh diketahui banyak orang." Lanjutnya. Keluhan dari para peserta mulai dilontarkan kepada pihak panitia ketika durasi yang diberikan pada materi ini melebihi durasi dari materi-materi sebelumnya, selisihnya sekitar satu jam lebih.
Masalah AD/ART disinggung kembali oleh para peserta kepada pemateri selanjutnya yaitu Imam Wahyudi selaku mantan Ketua DPM FIP periode 2017. "Sebenarnya boleh saja apabila mau dipublikasikan kepada umum, namun itu rawan juga sih. Bergantung pada Perma masing-masing Ormawa, dalam artian sesuai kebutuhan." Jelas pemateri. Ketua Umum DPM FIP periode 2020 menegaskan bahwa tidak ada Peraturan Organisasi yang mengatur tentang AD/ART Ormawa FIP yang harus diketahui oleh Mahasiswa FIP, semuanya bergantung pada kewenangan Ormawa masing-masing.(Iq)

Read more ...

Minggu, 01 Maret 2020

LKMM Perdana FIP, Keterbatasan Dana Tidak Jadi Hambatan




Doc. SINAR


WARTA SINAR - Sabtu, 29 Februari 2020 Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu pendidikan Universitas Trunojoyo Madura, telah mengadakan Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa (LKMM). Kegiatan LKMM ini berlangsung di Gedung Rektorium UTM selama dua hari, yaitu 29 Februari dan 1 Maret 2020. LKMM ini diikuti oleh seluruh jajaran Badan Kelengkapan Organisasi Mahasiswa (ORMAWA) fakultas Ilmu Pendidikan. Kegiatan LKMM kali pertama ini mengangkat tema  "Terbinanya Sinergitas ORMAWA FIP dalam Rangka Optimalisasi Kinerja yang Berorientasikan Prestasi". Kegiatan ini mendapat bimbingan dan pendampingan langsung dari Wakil Dekan III FIP yaitu Bapak Wahid Khoirul Ikhwan.
LKMM ini merupakan kegiatan perdana BEM FIP pada periode 2020,  yang memuat pembekalan dan pelatihan dasar manajemen ORMAWA di lingkup FIP. Dengan persiapan yang cukup singkat yaitu selama satu minggu, kegiatan ini dapat dikatakan cukup bagus. Kegiatan ini mematok iuran sebesar Rp. 35.000,- per peserta, yang diakumulasikan sebagai konsumsi pagi, siang, dan sore selama 2 hari. Hal ini dikarenakan kegiatan ini tidak mendapatkan bantuan dana sama sekali dari fakultas, maka dari itu BEM hanya menyediakan tempat sedangkan konsumsi tetap dari peserta pribadi.
Beberapa harapan dan tujuan diselenggarakannya kegiatan ini yaitu untuk memberi bekal pengetahuan dan keterampilan pada badan kelengkapan ORMAWA FIP dalam menjalankan masing-masing kegiatan internalnya agar lebih baik dan berprestasi. "Sedangkan tujuan diadakannya LKMM untuk seluruh ormawa FIP ini yang paling utama adalah agar satu frekuensi dan satu visi misi selain itu agar ormawa dapat lebih mengerti dalam menyikapi konflik yang ada dalam keluarga masing-masing." Ujar Dayat (Gubernur FIP). LKMM ini merupakan pelatihan untuk memperjelas fungsi dan kinerja beberapa ORMAWA yaitu mewadahi dan mendorong mahasiswa dengan minat bakat tertentu agar lebih berprestasi.(Lut/Ut)

Read more ...

Kamis, 05 Desember 2019

Golput, Langganan Permasalahan Pemilu


     

Doc. LPM Sinar

           Warta Sinar -
Rabu(4/12), pemilihan ketua umum Himpunan Mahasiswa se-Fakultas Ilmu Pendidikan periode 2020 telah selesai dilaksanakan. Pemungutan suara dimulai pukul 08.15 sampai 14.15  di halaman parkir RKB-D, dilanjutkan dengan perhitungan surat suara di ruang 301-305, hingga pembacaan SK hasil perhitungan suara pukul 18.25 WIB.
Hasil perolehan suara Himpunan Prodi PGPAUD dengan pemenang pasangan nomer urut 01 Aswita & wiwik dengan perolehan suara 102.  Himpunan prodi Pendidikan IPA dengan pemenang pasangan nomor urut 03 Annisa & Naufillah dengan suara yang diperoleh 117.  Himpunan prodi PGSD atas nama Rolex memperoleh 210 suara, dengan kursi kosong 11 suara. Himpunan prodi PBSI dengan pemenang pasangan nomor urut 01 atas nama Rizaldi Alifian Ramadhan mendapatkan 116 suara. Himpunan prodi Pendidikan Informatika dengan pemenang pasangan nomor urut 2 atas nama Khoirul Ashab mendapatkan 180 suara. Hasil pemungutan surat suara tidak dapat menembus angka 1500 mahasiswa, hanya berkisar 1000 total suara semua Prodi.
“Sangat disayangankan pada pemilihan kali ini 1700 suara golput . Hal itu mungkin dikarenakan bertepatannya dengan berlangsungnya UAS. Namun pemilihan suara kali ini lebih baik dari pemilihan suara pada saat Gubernur dan Wakil Gubernur FIP lalu, karena terdapatnya beberapa kesalahan yang telah diperbaiki oleh tim KPUM sendiri” ujar Mustedik ketua KPUM FIP.
Perbedaan pemilihan ketua umum himpunan mahasiswa kali ini dengan tahun lalu yaitu pada penambahan dan berkurangnya jumlah pasangan calon. Yang pertama yaitu pada PGPAUD, saat tahun lalu hanya ada satu pasangan, tahun ini menjadi 3 calon pasangan. Berikutnya pada Pendidikan IPA pada tahun lalu mempunyai 2 calon pasangan, sekarang menjadi 3 calon pasangan. Terakhir pada PGSD pada tahun lalu mempunyai 2 calon pasangan, sekarang berkurang menjadi satu calon pasangan.
Salah satu paslon yang berhasil menang dari Himpunan Pendidikan IPA menyatakan keberhasilannya dengan semangat “ Ini mungkin amanah untuk kami  menciptakan suatu himpunan  yang sesuai dengan kebutuhan mahasiswa prodi Pendidikan IPA, dengan memaksimalkan program kerja Speaking Box untuk menyerap aspirasi mahasiswa Pendidikan Ipa.” Ujar Anisa selaku ketum Himapipa terpilih periode 2020. (Nov/sya)

Read more ...

Alamat Kami

Jln. Raya Telang - Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Trunojoyo Madura

Follow Us

Designed lpmsinar Published lpmsinar_fkipUtm