Selamat Datang di Situs Lembaga Pers Mahasiswa Sinar_FkipUtm

Senin, 16 Oktober 2017

Calon Dekan FIP Hanya Satu, Kenapa?


(Ketua Sidang, Ketua Panitia, beserta Dekan dan Wakil Dekan. Foto: Dok. LPM Sinar)

WARTA SINAR – Pencalonan dekan fakultas ilmu pendidikan (FIP) kali ini unik, karena hanya ada calon tunggal yang layak sesuai kriteria, yakni bapak Sulaiman. Hal itu disampaikan oleh bapak Mutjahidin, selaku Ketua Panitia Seleksi Pemilihan Dekan FIP, di Aula Sultan Kadirun Lantai 3 (RKB-D), Universitas Trunojoyo Madura.

“Hanya satu yang memenuhi syarat. Salah satu persyaratan harus memenuhi fungsional lektor kepala. Itu yang tidak ada,” ujar dosen PGSD itu.

Dosen asal Lombok tersebut menjelaskan lebih lanjut, terkait jabatan fungsional yang harus dipenuhi baik oleh pimpinan universitas maupun pimpinan fakultas, yakni minimal lektor kepala dan maksimal profesor. Sementara untuk wakil dekan, minimal lektor. Secara urut, tingkatan tersebut antara lain asisten ahli, lektor, lektor kepala, dan profesor.

Sementara itu, senat yang terdiri atas dosen pada setiap prodi memiliki otoritas dalam mengadakan rapat calon pemilihan dekan. Berbagai tahapan dilakukan melalui proses penjaringan balon (bakal calon), seleksi administrasi, verifikasi, dan penetapan calon dekan. 

Hari ini, 16 Oktober 2017, calon tunggal, bapak Sulaiman, menyampaikan visi misinya di Aula RKBD, dengan dihadiri oleh perwakilan mahasiswa dan dosen. “Setelah ini, senat akan mengadakan rapat tertutup, apakah calon dekan ini layak untuk diajukan ke rektor. Kalau senat mengatakan tidak layak, ya, tidak diajukan. Kalau menurut senat layak, nanti dikirim ke meja rektor, apakah calon yang diusulkan senat ini layak atau tidak. Semisal tidak ada calon, maka akan diproses lagi,” lanjut bapak Mutjahidin.

Berkaitan dengan pemilihan calon tunggal ini, FIP bukanlah satu-satunya fakultas yang memiliki satu calon dekan. Fakultas lain, yakni Fakultas Ilmu Keislaman (FIK), juga memiliki satu calon dekan. Berbeda dengan kedua fakultas tersebut, fakultas Pertanian memiliki banyak calon untuk diajukan. (GG)

Read more ...

Sabtu, 16 September 2017

Dana Tersendat, UKM Putar Otak



(Sumber foto: Google)


Warta SINAR--Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas merupakan tempat menampung bakat dan minat mahasiswa, khususnya di Fakultas Ilmu pendidikan, Universitas Trunojoyo Madura. Unit Kegiatan Mahasiswa ini terdiri atas 7 UKMF, yaitu Ar-Rasyad, Pena, Sabit, Sinar, Pofkip, Gp-Est, dan Excellent yang memiliki fokus berbeda-beda.

Dari Fakultas Ilmu Pendidikan, tiap UKMF tersebut diberikan dana untuk kegiatan yang diselenggarakan. Namun, hasil wawancara anggota Sinar pada Senin (11/09) kepada masing-masing ketua UKM, dana tersebut belum cair. Padahal, berdasarkan sistem pencairan dana, dana akan cair apabila ketua umum sudah menyetorkan LPJ kepada fakultas.

Dari hasil wawancara ke 5 unit kegiatan mahasiswa fakultas, dana memang belum cair dari fakultas. Padahal,  sistem pencairan dana tahun ini, ”LPJ jadi, setor, kemudian dana cair,” terang Madon, ketua umum UKMF Pofkip. Namun, pada kenyataannya, ketika UKM menyetorkan LPJ, dana tidak diterima.

”Kalau tahun lalu Agustus sudah cair, sedangkan tahun ini bulan Agustus belum cair juga. Dari fakultas bilang katanya masih nunggu dari unversitas,” tambah Madon yang saat itu diwawancarai di halaman taman kampus.

Tersendatnya dana ini, tentu saja membuat ketua UKM dan anggotanya kebingungan mencari dana. Pasalnya, kegiatan yang akan mereka adakan membutuhkan dana yang tidak sedikit.

”Pendanaan kita dari usaha teman-teman. Ada yang utang keluarga dan gadaikan BPKB,” keluh ketua umum Sabit saat diwawancarai di depan Sekret.

Dari hasil wawancara ke beberapa ketua umum UKM diketahui bahwa dana belum cair dikarenakan dari universitas belum turun. Namun, ketika anggota Sinar ingin mengonfirmasi kepada pak Zaini, selaku yang menangani pencairan dana ini, beliau tidak ingin memberikan penjelasan. (Ri)



Read more ...

Paradoks Nasionalisme: Indonesia vs Thailand



(Sumber Foto: Google)


“Kami, putera dan puteri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia,” demikianlah butir ketiga Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Sumpah itu tetap bergaung di tanggal dan bulan yang sama, sebagaimana perayaan hari-hari nasional lain yang dilaksanakan rutin setiap tahun. Akan tetapi, apakah kita sadar bahwa dalam kalimat itu bukan hanya menyampaikan pesan tentang pentingnya bahasa Indonesia, melainkan juga rasa nasionalisme? 

Jadi begini, pada Jumat 15 September 2017, banyak para “nasionalis” berbondong-bondong menonton pertandingan timnas Indonesia vs Thailand di ajang Piala AFF. Seperti kebanyakan suporter dalam sepak bola, para “nasionalis” ini akan merasa tegang ketika timnas Indonesia diserang oleh tim lawan, dan merasa bersemangat saat menyerang timnas Thailand. Dalam batin, saya bangga menyadari betapa jiwa-jiwa nasionalis ini tumbuh subur, bahkan melalui hal-hal sederhana seperti sepak bola.

Akan tetapi, ada satu hal yang saya sayangkan dalam pertandingan ini. Bukan berkaitan dengan permainan timnas Indonesia, melainkan dengan komentator sepak bola Indonesia. Sepanjang babak pertama, saya sering mendengar istilah-istilah asing yang keluar dari komentator, seperti save, heading, defense, speed, stay, coach, counter, team work, on target, leadership, goal position, long ball, pressure, dan injury time. Menyadari hal itu, tiba-tiba hati saya merasa pilu, “Inikah yang dinamakan dengan semangat nasionalisme?”

Bagi saya, penggunaan istilah bahasa Inggris di saat timnas Indonesia melawan timnas Thailand merupakan sesuatu paradoks. Paradoks dalam KBBI Offline adalah pernyataan yang seolah-olah bertentangan (berlawanan) dengan pendapat umum atau kebenaran, tetapi kenyataannya mengandung kebenaran. Jika dikonkretkan, maka pernyataan tersebut dapat berupa, “Pertandingan timnas Indonesia vs Thailand menumbuhkan sekaligus mematikan nasionalisme para suporter”.

Jiwa nasionalis itu tumbuh bersama datangnya para pemain timnas Indonesia yang hampir memasukkan gol ke gawang Thailand. Akan tetapi, jiwa nasionalis itu pun mati secara bersamaan tanpa disadari bahwa media yang dikonsumsi oleh massa telah meracuni alam bawah sadar mereka dengan kebiasaan memakai istilah asing. Terbukti, saat menit-menit terakhir Indonesia belum menjebloskan gol ke gawang lawan, beberapa warganet berkomentar melalui Twitter.

“Semangat garuda nusantara, msh ada ekstra time..” @DidiHamzah

Ada juga yang berkomentar saat salah satu pemain Indonesia terkena kartu merah karena menyikut seorang pemain Thailand. Pernyataan itu juga diungkapkan melalui Twitter.

“Hehe iyaa.. Coach indra kan ngjarinnya sepak bola..bkn akting, Kalo diajarin akting takut jd artis ntar” @Nada_zai

Tidakkah kita melihat paradoks nasionalisme dalam kalimat-kalimat itu? Apa sulitnya mengganti frasa “ekstra time” menjadi “perpanjangan waktu”, atau “coach” menjadi “pelatih”? Bukankah di bangku sekolah sudah diajarkan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia untuk kata-kata se-sederhana itu? Tapi saya yakin (dan saya percaya Anda sepakat dengan saya) bahwa ketidakpedulian terhadap bahasa Indonesia itu bukan dikarenakan kita tidak bisa, melainkan karena, rasa tidak percaya diri. Ya, rasa tidak percaya diri karena menghindari cemooh “kurang update” dan “gak gaul”.

Apalagi, media kini berperan sebagai seorang “guru” bagi publik yang mengonsumsinya. Apa yang dikatakan oleh guru, ya, harus digugu lan ditiru. Apa yang menjadi kecenderungan di dalam media massa, akan ditelan mentah-mentah oleh publik, apalagi bagi mereka yang tidak berpendidikan tinggi dan menangkap sajian media sebagai sesuatu yang sifatnya dogmatis.

Dalam UUD Kebahasaan nomor 24 tahun 2009, Bab III tentang Bahasa Negara Bagian Kesatu Umum, Pasal 25, Ayat (3) dikatakan bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berfungsi sebagai bahasa resmi kenegaraan, pengantar pendidikan, komunikasi tingkat nasional, pengembangan kebudayaan nasional, transaksi dan dokumentasi niaga, serta sarana pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan bahasa media massa.

Penggunaan istilah asing dalam media massa adalah pelanggaran terhadap UUD tersebut, dan itu harus ditanggapi secara tegas oleh pemerintah. Ada dua opsi yang dapat diambil untuk itu. Pertama, hapus saja UUD yang menyebut media massa harus menggunakan bahasa Indonesia. Pilihan kedua, tindak tegas pelanggar UUD dengan memberikan sanksi.

Media massa memiliki peran penting sebagai alat transmisi kebudayaan dan pendidikan. Percuma, diadakan seminar kebahasaan yang hanya mencakup beberapa orang saja dalam satu ruangan, jika tidak diimbangi dengan pelaksanaan nyata secara luas, misalnya melalui media televisi. 

*Penulis Gigih Pebri, Mahasiswa FIP
*Tulisan ini ditulis dalam keadaan gelisah

Read more ...

Kamis, 31 Agustus 2017

Buletin Reinkarnasi Edisi Agustus 2017




Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan nikmat kesehatan yang tiada tara bagi kami segenap keluarga Lembaga Pers Mahasiswa Sinar dalam proses pembuatan buletin Reinkarnasi ini. Buletin “REINKARNASI” hadir untuk memenuhi tugas kami sebagai lembaga pers mahasiswa pada para pembaca. 

Pada buletin bulan Agustus ini, tema yang diangkat adalah “Mahasiswa FIP yang Ideal”. Tema tersebut didasarkan pada momen penting awal-awal bulan ini, yaitu datangnya mahasiswa baru di Fakultas Ilmu Pendidikan. Tujuan ditentukannya tema tersebut adalah agar dapat memberikan inspirasi kepada Maba “bagaimana menjadi mahasiswa FIP yang seharusnya?”. Di samping itu, juga dipaparkan opini tentang bagaimana kita seharusnya menjadi guru yang ideal, sebagai keluaran mahasiswa FIP nanti setelah lulus dari UTM.

Khusus terbitan kali ini, kami berfokus pada opini. Opini atau pendapat diharapkan dapat menjadi media efektif dalam penyampaian gagasan atau pandangan tentang bagaimana mahasiswa FIP. Opini didasarkan atas pengalaman pribadi yang diperkuat dengan data-data. Opini menyajikan sudut pandang terhadap suatu masalah. Maka dalam terbitan kali ini, opini kami diusahakan mampu menjadi media pencerahan bagi mahasiswa FIP, khususnya Maba, terkait mahasiswa, guru, dan fakultas ilmu pendidikan.

Dengan penerbitan buletin ini, kami berusaha menyajikan yang terbaik dan tak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang mendukung dan berpartisipasi dalam proses pembuatan buletin ini. Semoga karya kami dapat memancarkan harapan perubahan yang terjadi di dalam kampus, selalu menginspirasi, menggugah semangat, serta menghadirkan informasi yang aktual sehingga memberikan manfaat positif bagi para pembaca.


Buletin Reinkarnasi Edisi Agustus 2017 dapat diunduh di bawah ini!





Read more ...

Selasa, 22 Agustus 2017

Poster IV FIP Tekankan Pentingnya Pendidikan Karakter bagi Maba




Foto: Dok. HPD Poster FIP


Warta Sinar — Pekan Orientasi Studi Terpadu Fakultas Ilmu Pendidikan (POSTER FIP) adalah bentuk penyambutan mahasiswa baru Fakultas Ilmu Pendidikan yang dilaksanakan mulai hari ini (22/8) dan akan berakhir pada (24/8). Acara dibuka pukul 08.00 WIB oleh Dekan FIP Bapak Sulaiman bertempat di lapangan Universitas Trunojoyo Madura, yang disimbolkan dengan menerbangkan enam ekor burung merpati. 

“Lima burung merpati diberi pita sesuai warna prodi di FIP, sedangkan satu ekor untuk Bapak Dekan,” ujar Fadol Ilul, ketua pelaksana kegiatan. Sedangkan untuk makna pelepasan burung ialah agar mahasiswa baru nantinya bisa mengembangkan potensi diri mereka dalam mencari ilmu di tingkat universitas secara mandiri.

Tak hanya itu, kegiatan POSTER IV difokuskan pada pendidikan karakter yang wajib dimiliki setiap mahasiswa baru di Fakultas Ilmu Pendidikan. Oleh karena itu, tema yang dibentuk panitia ialah “Membentuk Pendidik yang Berkarakter, Toleran, Inovatif, Kritis, serta Menjunjung Tinggi Solidaritas yang Berlandaskan Pancasila”. 

“Materi hari ini pun tentang pendidikan karakter yang langsung dipandu oleh Bapak Arifin, mantan Rektor UTM,” ungkap Fitroh, panitia kegiatan. Dalam pemaparannya tentang pendidikan karakter, Bapak Arifin menyebutkan bahwa jiwa yang berkarakter tidak hanya bagi diri mahasiswa, melainkan juga kelak saat menjadi guru, orang tua, maupun sosok manusia yang berkarakter dan memiliki jiwa sosial yang baik.

Sayangnya, tak ada gading yang tak retak. Selama kegiatan berlangsung, banyaknya mahasiswa baru yang sakit dan tumbang membuat panitia kewalahan. Pasalnya, faktor utama terletak pada kurangnya istirahat dan kondisi tubuh mahasiswa baru yang memang kurang bagus. Namun, panitia sudah mengantisispasi sedari awal, dan bekerja sama dengan salah satu puskesmas setempat agar memudahkan mahasiswa baru yang membutuhkan pananganan serius. “Meski banyak yang tumbang, itu tidak berdampak bagi jalannya acara kami,” tambah Fitroh. 

Menurutnya, mahasiswa baru wajib dididik karakternya di awal agar paham benar mengenai kehidupan kampus seorang mahasiswa. Perubahan status siswa menjadi mahasiswa sedikit banyak memiliki pengaruh besar dalam pola pikir mahasiswa baru, dan itulah yang menjadi tolak ukur panitia dalam mengembangkan konsep acara yang berfokus pada moral, karakter, dan kedisiplinan. “Kalau dulu masih manja dan santai semasa sekolah, maka sudah saatnya ketika menjadi mahasiswa mereka wajib disiplin untuk diri mereka sendiri”, pungkasnya. 

Harapan untuk mahasiswa baru FIP agar jiwa dan moral mereka bisa terbentuk sebagai mahasiswa yang disiplin, berjiwa kritis, bermoral, dan aktif terhadap kehidupan mahasiswa. (Wky/Ald)




Read more ...

Sabtu, 19 Agustus 2017

Jaga Marwah Kampus, Awas Masuk Angin



"Pada akhirnya kalau misalnya sudah ketemu titik di mana kita siap untuk turun, ya nanti akan turun bersama dengan partai-partai politik pendukung ini," Khofifah Indar Parawansah (15/08/2017)

Jalan terjal tengah dihadapi oleh seluruh masyarakat Jawa Timur. Mengingat pada Tahun 2018 nanti akan diselenggarakan pilkada serentak dibanyak kota, kabupaten, dan provinsi di Indonesia, salah satunya di Provinsi Jawa Timur. Para elit politik terus melakukan konsolidasi politik untuk menemukan format yang pas tentang sosok yg akan diusung di pilkada serentak tahun depan. Targetnya jelas, yakni untuk mendulang suara pemilih sebanyak-banyaknya dan memenangkan kontestasi politik di tahun itu. 

Diawali dengan kesediaan Gus Ipul (Syaifullah Yusuf sbg Wakil Gubernur Jatim sekarang) yg diiringi dengan dukungan banyak pihak termasuk berbagai partai politik dan NU. Belakangan ini, muncul nama lain yg telah bersiap untuk ikut bertarung dalam pilgub Jatim tahun depan. Beliau adalah Khofifah Indar Parawansah. Perempuan yang telah dua kali kalah dalam pemilu gubernur Jatim tersebut dan sekarang menjadi Menteri Sosial Kabinet Jokowi-JK sejatinya sudah lama digadang-gadang akan maju kembali dalam pemilu gubernur yang ketiga kalinya bagi dirinya. Namun saat itu khofifah nampaknya baru ingin cek sound atau cek elektabilitas suaranya di Jawa Timur. Tentu khofifah tidak ingin kalah untuk ketiga kalinya. 

Pada akhirnya khofifah semakin memberikan sinyal yang kuat bahwa dirinya akan maju dalam Pemilihan Gubernur Jatim tahun 2018. Dia berkata," "Pada akhirnya kalau misalnya sudah ketemu titik di mana kita siap untuk turun, ya nanti akan turun bersama dengan partai-partai politik pendukung ini,". Tentu secara tersurat tidak ada yang aneh dengan statment bu Menteri, akan tetapi secara tersirat statment ini menunjukkan bahwa cek sound atau cek suara yg beliau maksud telah menunjukkan tanda-tanda yang kuat untuk mendorong dirinya kembali berlaga di panggung politik Jawa Timur. 

Menanggapi kondisi politik hari ini, warga Jawa Timur khususnya kaum Nahdiyyin kembali dihadapkan pada pilihan sulit. Ada dua sosok warga NU yang sangat kuat akan berpotensi head to head di panggung politik Jatim. Cak Imin (Muhaimin Iskandar sbg Ketua Umum PKB), menghimbau agar calon dari NU cukup satu saja (entah siapa yg disarankan mengalah, Gus Ipul atau Bu Khofifah). Sementara warga NU lainnya tidak melihat hal ini sbg masalah. Mereka berpendapat bahwa hal ini sebagai sebuah kewajaran. 

Sampai pada titik nampak cerita ini biasa saja. Sampai pada titik dimana panitia kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Trunojoyo Madura 2017 berniat mengundang Ibu Menteri Sosial (Khofifah Indar Parawansah) sebagai salah satu narasumber dalam kegiatan tersebut. Sepertinya ini hal yg wajar mengingat beliau adalah pejabat negara. Tidak ada masalah bagi pejabat negara memberikan wawasan kebangsaannya kepada Mahasiswa baru. Harapannya adalah agar mahasiswa baru dapat mengambil ilmu yg bermanfaat dari pembicara Ibu Khofifah. 

Namun menugaskan mahasiswa baru untuk mencetak foto-foto Ibu Khofifah tampak sedikit aneh. Apa apa? Sampai disini bukan maksud penulis menuduh itu adalah keputusan resmi panitia kegiatan. Karena penugasan itu bisa diberikan secara legal maupun ilegal oleh oknum tertentu. Tapi tetap saja ini aneh. Puluhan kali pejabat negara datang ke Universitas Trunojoyo Madura (dibaca: UTM), penulis belum pernah melihat sambutan yang begitu spesial seperti kali. Penulis katakan spesial karena jangankan sekelas menteri, Presiden SBY pernah datang ke UTM untuk meresmikan gedung rektorat yang baru saja kala itu tidak ada perintah mencetak foto beliau. Ini sekelas menteri. Why?

Penulis tidak ingin menuduh siapa pun. Tetapi menduga boleh kan. Kuat dugaan bahwa kedatangan Ibu Menteri ke kampus UTM bermuatan politik. Hal ini didasarkan pada beberapa perenungan, antara lain:

1. Sinyal majunya khofifah dalam pemilihan gubernur jatim Tahun 2018 sangat kuat. Terdapat dugaan bahwa kunjungannya ke kampus UTM dalam rangka cek sound atau cek suara pemilih.

2. Kampus UTM adalah salah satu kampus terbesar di Madura. Sementara Madura merupakan pulau dengan mayoritas warganya adalah muslim. Muslim di madura juga banyak terafiliasi dengan ormas NU, dimana beberapa warga Nahdiyyin juga masih menjadi pendukung setia khofifah. Maka kedatangan khofifah jelas seperti berkunjung ke rumahnya.

3. Beberapa pemimpin di kampus UTM maupun panitia kegiatan merupakan kader PMII. Semua orang tahu bahwa Khofifah Indar Parawansah merupakan salah satu kader terbaik PMII. Dia bahkan pernah menjabat sebagai Ketua Umum PMII. Maka dimungkinkan kedekatan ideologis ini kemudian memudahkan dan menjadi pintu masuk khofifah untuk memperluas jaringan pendukungnya.

4. Peserta PKKMB merupakan mahasiswa baru tahun ajaran 2017/2018. Banyak diantara mereka berasal dari Jawa Timur. Mereka rata-rata berumur antara 17 sampai 18 tahun, dimana masuk dalam kategori pemilih pemula pada pemilihan gubernur Jatim Tahun depan. Tentu saja ini menjadi peluang yang sangat massif bagi dukungan khofifah ke depan. Walau pun semua nya masih tetap harus didukung oleh strategi yang jitu. 

Dalam teori komunikasi politik, terdapat teori Teori Jarum Suntik. Teori Jarum Suntik atau Hypodermic Needle Theory yang disebut juga teori peluru atau teori sabuk transmisi. Teori ini berpendapat bahwa seluruh pesan politik yang disampaikan kepada masyarakat (terutama) melalui media massa pasti mempengaruhi pembacanya dan memberikan efek positif. Pembaca dianggap tidak berdaya dan secara pasif akan menerima informasi tersebut. Jika menurut media benar, pasti benar atau semacamnya. Salah satu contoh pengaplikasian teori ini adalah politik pencitraan. Sementara teori Empati dan Teori Homofili berpendapat bahwa komunikasi yang ‘berempati’  serta dibangun atas ‘kesamaan’ (homofili) akan jauh lebih berpengaruh dan efektif. Proses ‘empati’ dilakukan pembicara dengan cara menyelami jalan pikiran target penerima informasi yang disampaikannya. Sedangkan homofili dilakukan misalnya dengan melakukan pemberian informasi kepada massa yang memiliki kesamaan usia, ras, agama, ideology, pandangan politik, dan sebagainya.

Berangkat dari teori di atas, maka mahasiswa baru dapat dikategorikan sebagai salah satu targat dari komunikasi politik tersebut. Mahasiswa baru masih relatif muda dan minim pengetahuan dalam hal politik sehingga akan dengan mudah dan pasif menerima segala informasi yang disampaikan oleh pemberi pesan. Sementara dengan menojolkan kemampuan dialektika intelektual bu menteri akan dapat memenuhi hasrat pengetahuan mahasiswa baru yang relatif masih sangat antusias dengan hal-hal baru. Tentu saja hal ini jika dapat dimanfaatkan betuk oleh pemberi pesan akan menimbulkan empati yang sama antara penerima dan pemberi pesan. Satu hal lain yang dapat dimanfaatkan bu khofifah dalam kesempatan tersebut adalah membangun hubungan sesama jenis. Jika hal tersebut dapat dilakukan maka bukan tidak mungkin bu mensos akan mendapatkan simpati dari kelompok mahasiswa perempuan yg menghendaki pemimpin perempuan di Jawa Timur. Apalagi jumlah mahasiswa perempuan di UTM beberapa tahun belakangan tampak sangat banyak. 

Pada fase selanjutnya, pemberi pesan akan berusaha mengHegemoni penerima pesan. Dengan sadar atau tidak sadar, penerima pesan dalam hal ini adalah mahasiswa baru telah menjadi objek dari upaya hegemoni seseorang atau kelompok pemberi pesan. Tujuannya satu adalah kekuasaan baik dalam arti struktural maupun cultural. 

Dengan indikasi-indikasi kepentingan politik diatas. Dengan didasarkan pada beberapa perenungan, maka patut diduga kedatangan khofifah dalam kegiatan PKKMB tersebut akan dimanfaatkan untuk menghegemoni massa. Pada gilirannya akan terus digiring pada kepentingan politik Jawa Timur. Penulis berharap kampus UTM tidak masuk angin dalam menghadapi dinamika politik di Jawa Timur. Perguruan Tinggi memiliki fungsi dan peran sangat mulia dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia sebagaimana termuat dalam UU NO 12 TAHUN 2012 Tentang Pendidikan Tinggi. 

Beberapa konsekuensi logis yang akan diterima oleh kampus UTM apabila terbukti kuat memanfaatkan aktivitas akademik untuk kegiatan politik praktis, antara lain:

1. Dunia pendidikan menjadi tidak independen, objektifitas dari kebijakan kampus akan rentan diragukan oleh beberapa masyarakat khususnya pendukung lawan politik.

2. Dikucilkan dalam pergaulan sosial karena perannya yang telah melenceng, tidak proporsional, dan cenderung bermuatan politik.

3. Kehilangan jati dirinya yang mulia sebagai kawah candradimuka. Sebagai penengah dari berbagai persoalan sosial melalui pendekatan ilmu pengetahuannya. 

Peran mahasiswa juga sangat penting dalam memberikan peringatan kepada pimpinan kampus. Sampaikan pendapat yang dapat dipertanggung jawabkan apabila dirasa ada yang salah ataupun keliru. Hal tersebut dijamin oleh undang-undang. UU No 12 Tahun 2012 menjamin kebebasan akademik mahasiswa. Maka bersuaralah mahasiswa. Tunjukkan bahwa mahasiswa bukanlah sekedar kumpulan anak-anak yg hendak belajar membaca dan memulis dengan buku dan bolpoin di tangan. Tunjukkan bahwa mahasiswa adalah lebih dari itu. Sekumpulan peserta didik yang dewasa dengan segenap kesadaran akan fungsi dan perannya.

Ancaman ini ada di depan hidung kita semua. Maka berhati-hatilah kampus. Mari jaga marwah lambaga pendidikan kita semua. 

Sekian, jika ada salah kata, diharapkan koreksi dari pembaca semua guna perbaikan ilmu pengetahuan kita bersama di kemudian hari.

Terima kasih
Semoga bermanfaat

Sakaw
Alumni Universitas Trunojoyo Madura

Read more ...

Sabtu, 15 Juli 2017

Serunya UAS Teater Sempat




Pementasan Naskah CIPOA, Dok. Foto: LPM Sinar


Ternyata, ada juga tugas mata kuliah yang selain bermanfaat tapi juga seru, menghibur, dan berkesan. Seperti tugas mahasiswa semester 4 prodi PBSI, Universitas Trunojoyo Madura. Dalam mata kuliah Seni Teater, mereka menyajikan pementasan drama karya sastrawan Indonesia.

Seperti dikatakan oleh bapak Set Wahedi, salah satu dosen pengampu mata kuliah tersebut, pementasan drama ini bertujuan memberikan pengalaman kepada mahasiswa.

“Yang pertama, untuk mengapresiasi naskah-naskah drama Indonesia. Yang kedua, memberikan pengalaman berteater, bahwa hidup adalah suatu panggung sandiwara. Dan yang ketiga, agar mahasiswa PBSI mampu membedah naskah, memainkan satu lakon, serta memahami satu panggung.” Ujar penulis buku Kepala Yang Hilang itu.

Awalnya, beberapa mahasiswa tidak percaya diri mementaskan naskah para sastrawan, khawatir penampilan mereka tak menghibur. Hal itu dialami oleh Suwandi bersama aktor-aktornya. Namun, usai pementasan, mereka justru ketagihan dan ingin melakukan pementasan lagi.

“Saat lulus nanti, ini akan jadi nilai plus untuk saya dan sebagai pengalaman,” ujar mahasiswa yang bertugas sebagai sutradara sekaligus aktor dalam pementasan Bunga Rumah Makan, karya Utuy Tatang Sontani, yang tampil pada Jumat malam (14/07).

Diketuai oleh Evi Pratiwi, mahasiswa asal Mojokerto, pementasan drama ini berlangsung selama 4 hari, sejak Kamis (13/07) hingga Minggu (16/07). Dimulai pukul 19.15 di Gedung Student Center (GSC) UTM. Jadwal pementasan dapat berubah, disesuaikan dengan durasi waktu pada naskah yang ditampilkan.

Kendati demikian, antusiasme penonton tampak, bahkan sebelum pementasan dimulai, karena tugas mata kuliah ini dapat menjadi alternatif hiburan bagi mereka di sela Ujian Akhir Semester yang sedang berlangsung.


Untuk menambah kemeriahan, panitia telah mengundang bapak Lek R Giryadi sebagai komentator dalam naskah Bulan Bujur Sangkar karya Iwang Simatupang. Mantan ketua Dewan Kesenian Jawa Timur tersebut merupakan penulis naskah Orang-orang Bawah Tanah yang tampil pada 13 Juli 2017, disutradari oleh Maliawati. (Lind)


Read more ...

Alamat Kami

Jln. Raya Telang - Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Trunojoyo Madura

Follow Us

Designed lpmsinar Published lpmsinar_fkipUtm