Selamat Datang di Situs Lembaga Pers Mahasiswa Sinar_FkipUtm

Kamis, 29 Oktober 2015

Menumbuh kembangkan Religiusitas lewat Gema Sholawat (Pendidikan Informatika)


Suasana Gema di Gedung Cakra
Warta Sinar -Lantai dasar gedung Cakra UTM pagi tadi (29/10) di penuhi ratusan mahasiswa dari Prodi Pendidikan Informatika yang berpakaian serba putih dan bersarung.  kegiatan ini merupakan pembukaan dari acara dies natalis Prodi Pendidikan Informatika yang ke-2, dengan serangkaian acara lomba yang turut memeriahkan nantinya di bulan november.   Kegiatan yang mengusung tema “Gema Sholawat sebagai sarana Pendidikan Informatika Menuju Generasi Berahlakul Karimah” dimulai dari pukul 07.00-12.00 siang dengan serangkain acara dari penampilan musik rebana serta laporan dari ketua pelaksana kegiatan.
Saat dikonfirmasi oleh reporter LPM Sinar Sigit selaku Dosen sekaligus  ketua pelaksana dari acara dies natalis tersebut menuturkan bahwa pemilihan tema gema sholawat diprakarsai oleh Ketua Prodi Pendidikan Informatika ibu Arista. Arista menginginkan adanya nuansa lain, yaitu nuansa kerohanian yang berada di jurusannya guna menciptakan mahasiswa yang berakhlakul karimah. Kegiatan ini juga digunakan sebagai media awal kedepannya menuju kesuksesan dengan bersholawat cita-cita besar yang diinginkan bisa tercapai.
Gema sholawat ini sebenarnya di adopsi dari budaya Madura yang merupakan lingkungan santri khususnya daerah Bangkalan. Dalam acara ini mahasiswa Pendidikan Informatika di ajak untuk bersosialisasi dengan budaya Madura yang identik dengan sarung dan kebiasan-kebiasan santri. Selain itu harapan dari acara gema sholawat ini  tujuan utama tetap menciptakan mahasiswa yang berakhlakul karimah. Panitia dari acara dies natalis Prodi Pendidikan Informatika ini adalah Dosen dan Mahaiswa yang tergabung dalam HIMAPIF (Himpunan Mahasiswa Prodi Informatika). (dps,khr)
Read more ...

Buletin Lpm Sinar Edisi Sumpah Pemuda

Read more ...

Sabtu, 24 Oktober 2015

HIMAPIPA Kembangkan Potensi Siswa SMA Melalui (LKTI)

Pengumuman Pemenang Lomba Karya Tulis Ilmiah se SMA di Madura
Warta Sinar- UTM Himpunan mahasiswa Prodi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (HIMAPIPA) hari ini (24/10) menyelenggarakan acara finalisasi lomba karya tulis ilmiah (LKTI) untuk siswa SMA se Madura yang berlansung di Gedung Aula Ruang Kulia Bersama D. Lomba LKTI ini di ikuti 25 tim dari keseluruhan SMA di Madura yang mendaftar di (HIMAPIPA)  namun hari ini adalah proses final dari lomba (LKTI) yang menyisakan 10 tim yang mempresentasikan karya tulis mereka, setiap tim terdiri dari tiga siswa. Sebelumnya pendaftaran LKTI ini di buka sejak bulan Juli sampai September dengan bukti pengumpulan Karya Tulis Ilmiah. Karya Tulis Ilmiah yang sudah dikumpulkan tersebut selanjutnya diseleksi, untuk karya tulis yang lolos penyeleksian harus dipresentasikan di Kampus Universitas Trunojo Madura.  Acara ini merupakan  kali pertama di adakan oleh (HIMAPIPA) di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
“LKTI ini merupakan ajang publikasi dari Prodi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam ke masyarakat umum, serta tentunya melalui LKTI ini juga berharap agar pengembangan kreativitas siswa SMA di Madura untuk menggali potensi yang berada di Madura, serta pengembangan yang tidak hanya berkutat pada pembelajaran sehari-hari melainkan implementasi real dari hasil belajar”  tutur Arum Kisma Wardani selaku Ketua Pelaksana LKTI siswa SMA se Madura.
Pada penilaian LKTI ini didasarkan pada presentasi hasil karya tulis mereka, apakah sudah sesuai dengan apa yang tuliskan, dan kemampuan mempresentasikan dengan baik di depan dewan juri. Sigit salah satu Dosen yang menjadi dewan juri di LKTI menuturkan bahwa ke depannya nantinya setelah LKTI ini diharapkan siswa SMA dapat mengimplementasikan karya mereka setidaknya di lingkup paling kecil sekolah, atau sampai di masyarakat umum.
Penyelenggaran LKTI ini setelah pengumuman pemenang (HIMAPIPA) belum terfikirkan untuk bimbingan yang lebih intens pada pemenang lomba untuk mengembangkan Karya Tulis Ilmiah mereka, (HIMAPIPA)  hanya sebatas menyelenggarakan lomba dan selesai. Namun tentunya dari LKTI ini banyak yang dapat dipetik sebagai pelajaran buat anak-anak SMA, dari penggalaman menulis yang dimulai sejak SMA dan pengalaman untuk presentasi karya tulis mereka.
Tema LKTI yang di usung oleh (HIMAPIPA)   kali ini adalah “Aktualisasi Potensi Generasi Madura Menuju Indonesia emas”. Proses LKTI berlangsung begitu sengit, seluruh tim yang masuk dalam final berebut untuk Menjadi juara, mereka memaparkan karya mereka dengan lugas, beberapa properti seperti media pun turut dipakai demi hasil yang maksimal. Salah satunya adalah SMA Muhammadiyah 1 Sumenep yang memperoleh juara 1 ini mengembangkan judul “Pemanfaatan limbah cangkang telur dan botol plastik sebagai campuran pembuatan tepung gypsum”. Mereka memaparkan hasil Karya Tulis Ilmiah dengan baik sehinggah terpilih menjadi juara.(yog, rin, jeng)
Read more ...

Musikalisasi Puisi sebagai Penghujung Acara PSPS

SinarNews - Keragaman bahasa dan sastra di Indonesia menjadi kekayaan yang tidak ternilai harganya. Universitas Trunojoyo Madura tepatnya Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) menyelenggarakan kegiatan pekan seni pelajar se-Madura atau yang disingkat dengan PSPS. PSPS ini merupakan serangkaian kegiatan bulan bahasa, sebab dua acara yang meriah ini terjadi secara bersamaan tepat dimoment bulan Oktober. Bulan bahasa sendiri merupakan kegiatan kebahasaan dan kesastraan Indonesia yang secara rutin dilaksanakan setiap bulan Oktober sebagai bulan lahirnya Sumpah Pemuda oleh Pusat Bahasa dan lembaga pendidikan yang memiliki jurusan bahasa Indonesia serta instansi yang relevan dengan pembinaan dan pengembangan bahasa. Kegiatan PSPS ini berakhir dengan penampilan musikalisasi yang menjadikan antusiasme para penonton lainnya terpukau (11/10). Awal kegiatan PSPS ini ditandai dengan lomba baca puisi dan berlanjut pada pidato yang keduanya telah terlaksana 2 hari yang lalu. 
Pemenang lomba musikalisasi puisi se-Madura ini untuk kategori terbaik I, II, dan III akan mendapatkan tropi, uang pembinaan dan sertifikat yang akan diumumkan bertepatan puncak acara bulan bahasa yang diselenggarakan pada tanggal 25 Oktober di Gedung Cakra UTM yang nantinya akan dilaksanakan pagi”. Ujar Helmi selaku ketua pelaksana bulan bahasa. Selain pengumuman dari serangkaian lomba yang telah diselenggarakan, ada beberapa penampilan yang akan dibawakan oleh masing-masing kelas prodi PBSI atau tamu undangan. Tidak hanya itu duta bahasa juga akan ikut memeriahkan acara penutupan lomba bulan bahasa tersebut.
Peserta lomba memiliki konsep yang berbeda-beda. Baik dari segi busana, alat musik yang digunakan bahkan konsep pembacaan musikalisasi puisi. Salah satu peserta musikalisasi puisi ini adalah siswa dari SMAN 1 Kamal. Peserta ini memilih kostum hitam putih sebab puisi yang dibawakan berjudul karawang bekasi karya Chairil Anwar. Saat dikonfimasi kepada guru bahasa Indonesia, beliau mengungkapkan bahwa grup musikalisasi ini baru dibentuk “Ya bisa dibilang dadakan” saya berharap anak-anak mampu mengembangkan potensi mereka dengan diadakan acara ini”. ujar bu Yayuk. Kegiatan pada pagi hari itu dirasa kurang kondusif, dikarenakan 22 undangan yang disebar hanya 3 delegasi yang hadir pada acara tersebut. Harapan juri PSPS Pak Salamet Wahedi bahwasannya setelah acara ini diharapkan prodi PBSI dapat membangun link yang kedepannya dapat mewujudkan Prodi PBSI ini lebih dikenal oleh masyarkat. Selain itu, agar ketika mahasiswa prodi PBSI lulus dari UTM dapat dipercaya langsung oleh masyarakat dengan SDM yang mampu bersaing di MEA (Masyarakat Ekonomi Asean). (Jeng/Rin/lpmsinar)
Read more ...

Tetap Meriah Meski Hanya Tiga Peserta

SinarNews - Pagelaran busana daur ulang tetap meriah meskipun hanya dihadiri oleh tiga peserta, kegiatan ini merupakan salah satu dari serangkaian acara Dies Natalis PGPAUD UTM ke-3. Hari ini (18/10) di gedung Cakra Universitas Trunojoyo Madura diadakan lomba fashion show pelajar anak usia dini tingkat kecamatan Kamal dan kecamatan Socah. Para peserta lomba ini adalah anak PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) dan TK (Taman Kanak-Kanak) yang di agendakan berasal dari beberapa sekoalah Anak Usia Dini. Kegiatan pagi itu dihadiri Ketua Prodi Pendidikan Guru Anak Usia Dini, dosen PGPAUD, guru PAUD, wali murid serta badan kelengkapan mahasiswa FKIP. 
Awalnya sebanyak 6 peserta mendaftarkan diri dalam lomba ini, namun pada saat lomba dilaksanakan hanya terdapat tiga peserta yang tampil di Red Carpet tepat di lantai pertama gedung Cakra. Peserta yang hadir pagi itu adalah dari TK Tunas Harapan kecamatan Socah, PAUD Tunas Harapan dan TK Anugerah. Setiap peserta dengan diwakili gurunya wajib mempresentasikan busana yang dibuat dengan menyebutkan bahan apa yang digunakan dan kebermanfaatannya. Selain nilai estetika setiap busana yang dikenakan peserta harus memiliki nilai budaya Madura. Salah satunya seperti busana yang dikenakan oleh Fina Indriani, baju tersebut dibuat oleh guru Taman Kanak-Kanaknya. “Nampak budaya Madura disini adalah topi yang menyerupai tumpeng pada upacara Ropek Kasek di Sumenep, selain itu saya juga terinspirasi oleh penari upacara tersebut sehingga saya membuat baju ini berumbai-rumbai dengan warna mencolok khas Madura seperti merah, hijau, kuning dan hitam,” ucap guru TK Anugerah saat mempresentasikan hasil busana yang dibuatnya. 
Pemenang satu dan dua akan diumumkan pada tanggal 31 Oktober pada malam puncak Gemerlap Emas 3 Tahun PGPAUD. Pemenang hanya diambil dua besar karena jumlah peserta yang sedikit. Saat dikonfirmasi mengenai jumlah peserta kepada ketua pelaksana kegiatan, Raudlaatul Jannah mengatakan bahwa sudah menyebar 147 undangan, tetapi memang pemberian undangan tersebut terkesan dadakan sehingga para peserta kurang ada persiapan. Namun acara tetap berjalan meriah meski hanya terdapat tiga peserta lomba fashion show busana daur ulang. Para wali murid dan seluruh undangan merasa terhibur dengan tingkah lucu ketiga peserta. 

Acara siang itu sebenarnya bukan hanya pagelaran busana saja namun juga banyak penampilan dari mahasiswa PGPAUD. Para mahasiswa turut andil dalam kegiatan itu dengan menampilakan berbagai tarian anak,dan dongeng. Acara yang dibuka dengan menyanyikan mars PGPAUD itu diharapkan nantinya akan lebih baik lagi dan lebih meriah kedepannya. Disamping itu mahsiawa PGPAUD juga diajarkan untuk berwirausaha dengan mengadakan bazar, meskipun bazar tersebut tidak berjalan sesuai harapan karena hanya tiga stan yang terlihat berjajar di pelataran gedung Cakra. (Khr/Nda/lpmsinar)
Read more ...

Penutupan Pena Bulan PKM, Peserta Masih Antusias

SinarNews - Pena Bulan PKM akhirnya ditutup pada (17/10) di gedung Cakra Universitas Trunojoyo Madura. Kegiatan UKM-F Penelitian dan Penalaran ini sudah dilakukan selama satu bulan dan puncaknya pada sabtu kemarin. Semua peserta Pena Bulan PKM antusias mengikuti semua rangkaian acara, karena setelah berakhirnya acara itu akan diberikan sertifikat yang digunakan sebagai prasyarat pengambilan sertifikat ospek Fakultas. Semua maba FIP diwajibkan mengikuti Pena Bulan PKM. Tetapi tidak menutup kemungkinan bahwasannya mahasiswa lama dan mahasiswa Fakultas lain tidak boleh mengikuti Pena Bulan PKM ini. 
Acara ini dibuka dengan sesi sharing hearing oleh Jafar salah satu mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura yang lolos PIMNAS Ke XXVII di Kendari, tepatnya di Universitas Halu Oleo. Sharing hearing ini merupakan acara pembuka Pena Bulan PKM yang bertujuan agar peserta yang mengikuti PKM ini tidak berhenti sampai disini saja, tetapi mereka akan terus mencipatakan inovasi serta mengembangkan kreativitas yang dimiliki untuk menuju PIMNAS XXIX. Setelah acara sharing hearing, peserta bisa menikmati serangkaian acara penutupan Pena Bulan PKM dimulai dari pentas seni, bazar, serta acara pendukung lainnya yang dibawakan oleh badan kelengkapan mahasiswa FIP. Kegiatan yang dilakukan tersebut bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi tiap badan kelengkapan FIP. Dari setiap kegiatan yang berlangsung antusiasme peserta tidak kunjung usai, sebab sabit salah satu teater UKM-F FIP mengisi pentas seni dengan menampilkan drama yang mengundang gelak tawa para peserta dan panitia Pena Bulan PKM. Selain teater sabit, pendidikan IPA juga menampilkan satu tarian tradisional yang membuat peserta makin antusias. Tidak hanya itu, pada penutupan tersebut juga terdapat bazar yang terbilang cukup unik. Panitia menyediakan kupon senilai 1.000,- yang dapat ditukarkan dengan makanan ataupun minuman. “Saya berharap bazar ini dapat mengembangkan kreativitas dalam berwirausaha”. Ujar Rudi selaku Ketua Pelaksana Pena Bulan PKM. 

Penutupan Pena Bulan PKM juga memberikan penghargaan kepada pendamping dosen terbaik yang telah membimbing peserta dalam pembuatan PKM. Pendamping dosen terbaik ini dari setiap Prodi. Dari 250 proposal yang diharapkan terkumpul, ternyata saat ini hanya terkumpul sekitar 150 proposal. Panitia Pena Bulan PKM masih menunggu pengumpulan proposal hingga tanggal 30 Oktober pada saat batas akhir pengunggahan dan panitia akan mendampingi peserta yang lolos pengumuman pendanaan dari DIKTI (Direktoral Jenderal Pendidikan Tinggi) hingga menuju PIMNAS XXIX”. Ucap Rudi. (Jeng/Nda/lpmsinar)
Read more ...

Jumat, 23 Oktober 2015

Masih Dalam Perbaikan


Read more ...

Jumat, 16 Oktober 2015

Dies natalis PGSD ke 5. (PGSD harus mengejar kualitas bukan kuantitas saja) pemotongan pita oleh Dekan FKIP dan KAPRODI PGSD

lpmsinar
LPM Sinar – UTM. Dies Natalis Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) pagi tadi Jum’at (16/10)  pukul 08.30 WIB. Resmi  dibuka dengan pemotongan pita oleh Dekan FKIP Sulaiman, dan Ketua Program Studi (PGSD), Edy Nurtamam. Acara yang berlansung di depan Gedung Rektorat ini di hadiri oleh seluruh mahasiswa PGSD dari angkatan 2012-2015. Acara sempat berlansung molor dari jadwal utama 07.30-08.00 WIB. Sehingga  beberapa dari mahasiswa PGSD ada yang sakit dikarenakan cuaca tadi pagi yang begitu panas. Namun Acara berlansung kondusif dan sangat meriah dengan hiburan drum band dari SD Kesek,  hal itu terlihat dari riau-riau suara teriakan mahasiswa, dan tepuk tangan  menyambut aksi penampilan drum band.
Dies  natalis PGSD kali ini mengusung tema  “5 point of pgsd present” persembahan 5 tahun untuk PGSD. Acara ini nantinya akan berlansung dari tanggal 2-14 November dengan berbagai perlombaan yang di gelar mulai dari futsal putra-putri se PGSD, badminton se Universitas Trunojoyo Madura (UTM) dan lomba duta PGSD. Kemudian acara puncak penampilan dari perwakilan semua kelas di PGSD.
Dalam sambutannya Dekan FKIP Sulaiman menegaskan bahwa PGSD adalah jurusan paling banyak mahasiswanya sampai ada 6 kelas di angkatan 2014-2015 dibandingkan dengan jurusan-jurusan lain di FKIP. Disini tentunya PGSD mempunyai kuantitas yang lebih, karena banyaknya jumlah mahasiswa. Namun  disayangkan sekali jika kuantitas itu tidak didukung oleh kualitas dari mahasiswa PGSD dan Dosen PGSD berupa prestasi yang membanggakan. Kedepannya nanti PGSD akan mengurangi kuota untuk penerimaan mahasiswa baru di tahun 2016 dikarenakan Dosen dan jumlah mahasiswa yang tidak sebanding. “ PGSD harus mengejar kualitas bukan kuantitas saja” ujar Dekan FKIP. (yog)
Read more ...

Rabu, 14 Oktober 2015

Jalan Senyap Sastraku

“Menulislah, apapun jangan pernah takut tulisanmu tidak dibaca orang, yang penting tulis, suatu saat pasti berguna”  Pramoedya Ananta Toer
Saya pernah merasakan betapa lesunya, karya sastra  di kampus. Saat sebuah karya sastra hanya mampu dihasilkan saat tugas kuliah atau ajang-ajang perlombaan dengan embel-embel hadiah dan sertifikat. Itupun tidak banyak yang mengikutinya. Lantas bagaimana, perkembangan sastra kita saat ini.? apakah hanya berkutat pada sebuah pemaksaan dalam pembuatan karya satra? Itu tidak mungkin sekali menurut saya. Seseorang mampu menulis karena ada beberapa faktor pertama seseorang tersebut memang mencintai dalam bidang  kepenulisan sastra, kedua karena faktor penulis sendiri yang tak mempunyai bahan dalam kepenulisannya sehingga enggan untuk menuliskan gagasanya.
“Dalam pengalaman saya, sesuatu terasa menjadi ruwet sekali, ketika tidak mempunyai pengetahuan dalam bidang tersebut. Pelajaran MIPA saya tidak memiliki kemampuan untuk menghafalkan rumus-rumus yang sedemikian rupa. Sehingga tidak mampu untuk menyelesaikan. Karena itu bukan bidang saya.”
Banyak dari sekian kaum akademisi kita tidak mampu menulis karya satra, itu mungkin dikarenakan dari faktor kedua. Mereka tidak mempunyai bahan (pengetahuan) dalam kepenulisannya dan menganggap ruwet seperti saya, dalam mengerjakan pelajaran dibidang MIPA. Ibarat kata seorang penjajah yang mau berperang tetapi tidak mempunyai senjata. Bisa kita tebak bagaimana kaum akademisi kita, kalau mau menulis tetapi tidak mumpuni dalam kepenulisanya. Mereka akan kesulitan sekali memulai menulis atau memilih kata (diksi) dan menyatukannya, sehingga terbentuk suatu tulisan.
Banyak orang-orang yang menganggap bahwa menulis adalah sebuah pekerjaan yang menyita waktu, atau malah menganggap bahwa menulis adalah pekerjaan yang sudah digeluti sejak kita menempuh pendidikan paling mendasar sampai jenjang perguruan tinggi. Dan mengangap menulis bersifat mudah. Maindset itu juga yang berpengaruh besar bagi kalangan akademisi untuk enggan belajar dalam menulis.
“Kita menulis karena kita mencintai kata-kata: bagaimana ia terdengar, bagaimana ia menggetarkan pita suara kita, bagaimana ia membentuk kalimat dan memberikan makna terhadap keberadaan kita. Kata-kata adalah bayi yang kita lahirkan. Kita mestinya memperlakukan mereka sebaik-baiknya—tidak dengan cara teledor.”  As Laksana
Jalan Senyap Sastraku
Sebuah karya sastra memang tak seheboh dengan karya-karya lain dibidang teknologi maupun lainya yang mampu membuat sebuah perubahan besar, namun pada waktu bencana tsunami di Aceh, seluruh penulis di Indonesia beramai-ramai mengumpulkan puisi mereka untuk di kirimkan ke Aceh. Memang puisi bukan sumbangan yang dibutuhkan oleh masyarakat Aceh yang kala itu lebih membutuhkan bahan pokok makanan, pakaian, selimut dll. Tapi puisi setidaknya memberikan bantuan imorill, membangkitkan semangat mereka yang terpuruk saat menghadapi bencana alam.
Dengan pengolahan kata yang apik, penulis-penulis kita mampu membuat emosi rakyat Aceh tergugah semangatnya untuk bangkit. Kata adalah sebuah senjata yang mampu membuat setiap pembacanya merasakan sedih maupun gembira. Hal itulah yang belum mampu dibaca oleh kaum akademisi kita saat ini yang berada di kampus saya. Mereka masih enggan untuk menulis. “Ah entahlah saya bermimpi bahwasanya nanti, entah kapan itu akedemisi di kampus saya berlomba-lomba untuk membuah karya sastra.
“Menulislah, apapun jangan pernah takut tulisanmu tidak dibaca orang, yang penting tulis, suatu saat pasti berguna”  Pramoedya Ananta Toer
Itulah kata-kata Pram yang mampu membuat semangat kita untuk menulis, alangkah baiknya kita berkenalan dahulu terhadap dunia sastra kita, ada pepatah “Tak kenal maka tak sayang” itulah ungkapan bagi kita, kita harus mengenal dunia sastra dahulu mengenal teorinya, mengenal tulisannya dan segalanya tentang dunia sastra supaya kita mencintainya. Lalu  kita mencoba untuk menulis sastra.
Mengapa kita tidak beramai-ramai saja membuat karya sastra entah berupa cerpen, opini, essai, puisi dan lain-lain yang tulus dari hati kita, bukan semata-mata hanya karena hal paksaan dari dosen atau seruan perlombaan dengan iming-iming hadiah. Berikan sumbangan Indonesia setidaknya dari karya terbaikmu.
“Satraku mungkin tidak akan senyap lagi kalau akademisi kita sudah mencintai sastra. Itu impianku. Entahlah semoga saja cepat terlaksana bukan sebuah pengapain yang absourd dan utopia belaka saja impian ku ini.”

Oleh : Dwi Prayoga S
Read more ...

Sabtu, 10 Oktober 2015

Makna Kebebasan yang Terhimpit..!!!

lpmsinar
Pers merupakan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulis, suara, gambar atau cetak. Pers mahasiswa erat kaitannya seperti lidah penyambung aspirasi mahasiswa yang berada didalam instansi kampus. Dalam menjalankan tugasnya tersebut lembaga pers tidak serta-merta melakukan pemberitaan mana suka dengan embel-embel balas jasa. Para wartawan kampus sebenarnya memiliki seperangkat etika dalam menjalankan profesinya yang lazim disebut sebagai kode etik jurnalistik. Di dalamnya disebutkan bahwa wartawan sebenarnya juga dibatasi oleh ketentuan hukum tepatnya terdapat pada Undang-Undang Pers Nomor 40 tahun 1999. Kode etik jurnalistik dibuat untuk memantau kinerja wartawan agar bertanggung jawab dalam menjalankan profesinya yaitu mencari dan menyajikan informasi. Wartawan dituntut untuk memberi informasi yang benar berdasarkan fakta di lapangan bukan malah menyalahkan yang benar karena menengok satu sisi sebagai langkah eksistensi. Pers memiliki kebebasan dalam menyampaikan aspirasinya namun kebebasan tersebut hendaknya jangan sampai kebablasan.
Lembaga pers yang memiliki identitas ialah yang mampu menjaga kebenaran informasi yang diberikan, dalam kondisi serta situasi apapun. Pada masa presiden Soeharto kerap kali terjadi pembungkaman suara sehingga tidak mampu lagi bersuara bebas terlebih tentang segala hal yang bersebrangan dengan pemerintah. Bahkan semenjak tahun 1994 banyak media yang dibredel misalkan Tempo, Detak, dan Editorial yang ditutup langsung oleh pemerintah. Namun langkah pemberedelan tersebutlah yang kemudian membawa kesadaran baru bagi mahasiswa dan membuat mereka bertindak cepat. Jika kita kembali pada masa kini sebenarnya masih sering dijumpai hal serupa pada wajah pers mahasiswa kita namun dalam wajah yang berbeda. Sebenarnya saat ini pers mahasiswa masih belum sepenuhnya bebas. Dipercantik dengan kata-kata akademisi sejatinya secara tidak langsung kita masih ditekan pada sebuah kebebasan. Masih banyak para petinggi kampus yang terkesan malu menyampaikan bahwa rumahnya masih banyak kekacauan. Ditambah lagi proses akreditasi yang berada pada taraf bawah membuat mereka harus getol memoles wajah dengan berbagai pelabelan baik. Ahkirnya jika ada yang tidak setuju mengikuti alur yang sudah menjadi skenario mereka akan kena senggol. Disinilah peran pers mahasiswa harus dijalankan bukan hanya menjadi wayang untuk meng ‘Iyakan’ perintah dalang. Kebenaran dalam informasi mutlak disampaikan agar tidak terjadi kesalah fahaman golongan tertentu. 
Kebebasan pers sebenarnya adalah bagaimana wartawan atau warga negara menyampaikan pendapat, ketika seseorang menulis sebuah kebenaran apakah seseorang tersebut telah salah?. LPM atau yang sering disebut lembaga pers mahasiswa merupakan media alternatife untuk belajar bagi mahasiswa yang bergerak dibidang jurnalistik untuk memberi invormasi dibidang civitas akademika. Sebagai seseorang yang baru belajar wajarnya harus terus mendapat bimbingan dan binaan bukan pelimpahan wewenang. Apabila terdapat kesalahan maka harusnya diluruskan bukan malah disalahkan. Menengok permasalahan yang terjadi pada salah satu lembaga pers mahsiswa yang ada di Fakultas Ilmu Keislaman (LPM Aksara), ini jelas mencederai dan menghambat mahasiswa dalam berkreativitas dan belajar jurnalistik. Secara tidak langsung anggota pers merasa dibatasi dalam hal belajar padahal sudah jelas bahwa setiap mahasiswa mempunyai hak untuk berorganisasi untuk mengembangkan bakat dan minat yang dimiliki. Apabila pers dihalang-halangi untuk memberikan informasi kepada mahasiswa bukankah itu sama saja membatasi hak seseorang untuk mendapatkan informasi?. Ditambah lagi yang lebih parah lembaga pers tersebut akan dibredel atau dilarang untuk bersuara kembali sebagai lidah penyambung aspirasi mahaiswa. Bagaimanakah nanti jika sudah tidak ada wartawan kampus? mahasiswa fakultas akan memperoleh berita dari mana nantinya?
Seperti yang diungkapkan oleh Sulaiman selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan yang pernah bergiat di bidang kepenulisan saat menjadi mahasiswa, bahwa menurutnya pembredelaan Lembaga Pers Mahasiswa sebenarnya hanya akan mematikan kreatifitas dan memasung kebebasan untuk berbicara. Apalagi negara yang didalamnya terdapat embel-embel membredel berarti negara tersebut tidak mau berubah. Pembredelan bukanlah jalan pintas untuk menyelesaikan masalah karena ada yang lebih bijak dari kegiatan itu. Salah satunya adalah klarifikasi kepada pihak yang bersangkutan dan uji independen. 
Pembredelan tidak perlu dilakukan karena wartawan masih bisa menerapkan etika dalam jurnalistik. Apabila semua sepakat untuk menjadikan rumahnya lebih baik lagi maka tentunya tidak akan ada yang namanya pembatasan bersuara. Semua berhak mengambil kebebasan bersuara asalkan masih dalam koridor beretika. Dan yang lebih pentig selalu ada keterbukaan dalam menyampaikan kebenaran. Pers kampus bersifat bebas namun jangan sampai kebebasan tersebut dijompalngkan oleh kaum yang tidak bertanggung jawab.
Oleh : Khurin in/lpmsinar
Read more ...

Jumat, 09 Oktober 2015

Sarjana dan Harapan Bangsa

Perguruan tinggi merupakan pendidikan terakhir yang ditempuh . Setelah lulus dari SMA. Menempuh jenjang pendidikan tinggi. lagi demi meraih gelar “sarjana”. Bukan sarjana yang hanya eksistensinya kaum intelek, tetapi sarjana yang mampu menciptakan iklim baru dilingkup tataran masyarakat pada umumnya. Sebagai seorang insane akademisi “mahasiswa” tentu sangat berbeda sekali dengan mereka-mereka yang tidak mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Pemikiran mahasiswa haruslah lebih kritis dan lebih peka terhadap keadaan disekitarnya. Itu menjadi sangat riskan sekali jika seorang mahasiswa tidak mampu melakukankanya.
Kampus dituntut untuk mencetak sarjana-sarjana yang mempunyai daya intergritas yang tinggi mampu bersaing di dunia kerja. Setalah lulus dari jenjang perguruan tinggi sarjana akan dihadapkan realitas. Bagaimana cara kita untuk dapat bekerja, menyalurkan ilmu yang telah didapat di bangku perkuliahan selama empat tahun dan mendapatkan yang sesuai dengan bidang yang diampuh Ketika telah tercetak sarjana-sarjana yang tidak mempunyai intergritas yang tinggi, kampus telah gagal dalam mengemban amanah sebagai pencetak sarjana yang berguna bagi dirinya dan masyarakat disekitarnya.
Ketika kita membaca dalam UUD 1945  alenia ke 4 yang berbunyi “ mencedaskan kehidupan bangsa dan turut serta dalam mewujudkan cita-cita bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia”.  maka jelas sekali bahwa bangsa Indonesia ini mempunyai harapan yang sangat besar sekali kepada putra-putri bangsanya cerdas dan bisa mewujudkan cita-cita bangsanya. Ketika pahlawan dahulu membela Negara Indonesia lewat jalur perundingan dan pertempuran demi mencapai kemerdekaan. Maka sekarang adalah tugas sarjana yang meneruskan cita-cita pahlwan yang telah gugur, bukan dengan mengangkat bayonet lagi untuk mencapai kemerdekaan. Tetapi bagaimana sarjana-sarjana ini bisa berguna bagi masyarakat disekitarnya dan lebih universal lagi negaranya. Contoh yang sangat sederhana disini ketika ada 10000 sarjana yang telah dicetak oleh perguruan tinggi, dan yang 1000 mengadikan diri untuk menjadi sukarelawan mengajar di daerah-daerah terpencil atau mengajar anak-anak jalanan dan tidak mampu. Jelas akan membawa dampak yang sangat besar sekali bagi kemajuan bangsa.
Kampus mencetak manusia-manusia calon harapan bangsa.
Read more ...

Hardiknas Revolusi Pendidikan

Pada tanggal 2 Mei merupakan hari paling bersejarah di Indonesia, dimana setiap tahunnya bangsa Indonesia menyambut hari ini dengan suka cita maupun duka. HARDIKNAS tepatnya Hari Pendididikan Nasional, merupakan hari lahir Ki Hadjar Dewantara yang di nobatkan sebagai “Bapak Pendidikan Indonesia”, momen HARDIKNAS merupakan momen evaluasi untuk bangsa  Indonesia, mengenai terselenggaranya pendidikan dari tahun ketahun.
Pada Peringatan Hardiknas 2015 ini mengusung tema: “Pendidikan dan Kebudayaan Sebagai Gerakan Pencerdasan dan Penumbuhan Generasi Berkarakter Pancasila”. Tema ini menegaskan lagi bahwa sangat pentingnya revolusi karekter bagi bangsa Indonesia. Tatkala pak presiden terpilih kita Pak Jokowi dan wakilnya Pak Jusuf Kalla pada masa kampenyenya pilpres 2014 mewacanakan bahwa harus adanya revolusi mental bagi bangsa indonesia.
Arti kata Revolusi dalam kbbi adalah perubahan ketatanegaraan (pemerintahan atau keadaan sosial), dari arti kata revolusi kita dapat mengaris bawahi bahwa adanya revolusi berarti harus adanya suatu perubahan yang harus  diubah, lantas apa yang harus diubah oleh bangsa kita? Pertanyaan yang sangat mendasar . mental itu yang perlu diubah watak, karakter dan kepribadian seseorang, bangsa kita sudah mengenal pendidikan sejak berdirinya taman siswa yang dipelopori oleh Ki Hajar Dewantara, yang seharusnya bangsa kita sudah merdeka, merdeka dalam berfikir dalam bertindak  namun mengapa? Bangsa Indonesia masih harus terus berbenah dan berbenah dalam masalah pendidikan! Apakah  perlu adanya revolusi pendidikan juga?.
Pendidikan di Indonesia masih menyisakan banyak pekerjaan rumah yang belum terselesaikan, diantaranya banyak anak-anak yang belum bisa bersekolah, banyak pembiyaan pendidikan yang terbengkalai, banyak siswa yang harus mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk memperoleh pendidikan, banyak sekolah-sekolah yang fasilitasnya tidak memadai dan lagi banyak guru-guru honorer yang hanya digaji 500-700 ribu perbulan yang tidak cukup untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.
Kembali pada gagasan utama terkait dengan revolusi mental atau revolusi pendidikan, saya lebih  memilih revolusi pendidikan, karena pendidikan adalah tongkak utama paling mendasar demi tercapainya tujuan revolusi mental, di sekolah orang akan belajar bagaimana cara bersikap, bertindak, berfikir  memilih yang baik dan mana yang buruk. Terutama dijenjang pendidikan tingkat dasar penanaman nilai-nilai moral sejak dini akan berlansung sampai orang itu tumbuh menjadi dewasa, ketika penanam nilai-nilai itu tidak berlansung di sekolah-sekolah maka yang terjadi adalah pendidikan hanya mencetak manusia-manusia yang pintar namun tak berkarakter (berbudi luhur) layak halnya seperti koruptor itu sebenarnya pintar tetapi tak mempunyai karakter yang baik maka ia salah memilih mana yang harus dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan.

Revolusi Pendidikan harus dimulai dari segi pendidiknya maupun pemerintahnya. Pertama tenaga pendidik (guru) haruslah menanamkan nilai-nilai moral pancasila dalam setiap pembelajaran pada anak didiknya, tema HARDIKNAS tahun 2015 bukan sekedar wacana satu tahun kedepan saja melainkan pengaplikasian dalam pendidikan yang harus berkelanjutan. Kedua pemerintah hendaknya serius dalam menangani pendidikan. Kalau dalam UUD 1945 tertulis janji “mencerdaskan kehidupan bangsa” maka pemerintah tak seharusnya  tarik ulur dana untuk pendidikan, hendaknya semua warga Negara Indonesia ini semua turut menikmati yang namanya pendidikan, pendidikan gratis yang digalang-galangkan pemerintah dahulu bukan hanya sekedar wacana belaka isipan jempol manis, melainkan bukti kongkret dan real bahwa pemerintah harus melakukan revolusi pendidikan demi tercapainya kehidupan berbangsa dan bernegara yang maju. Ketika sebuah bangsa dikatakan maju apabila dilihat dari tingkat indikator pendidikanya yang tinggi, jika bangsa Indonesia ingin dikatakan maju maka perbaikilah pendidikan. (yoga/lpmsinar)
Read more ...

Lorong Sempit II

            Menjadi perantau di kota Ganjur memang, menjadi suatu pilihan hidupku  ketika kedua orang tuaku di desa yang berpenghasilan tak lebih dari 500 ribu rupiah perbulan  tak sanggup menyekolakan aku lagi dan menyuruhku bekerja demi menutupi kekurangan kebutuhan hidup yang semakin terhimpit. Ya gara-gara masalah yang sangat penting uang dan uang. Haduuh uang-uang,kapan ya aku bisa menggengamu sebanyak mungkin dan melepaskan jerat pendidikan dari lorong sempit ini.
            “Mengapa kau begitu gelisah nak?” sahut bapak Jiun teman mulungku yang sedari tadi sengaja mengawasiku dari jauh. Aku lagi kepikiran sama pendidikan di Negara kita ini pak. Indonesia.”lah memang kenapa nak sama pendidikan kita?” aku sangat kecewa dulu bapak, aku hanya bisa bersekolah sampai tingkat sekolah dasar saja, itupun hasil kerja keras orangtuaku banting tulang ngutang sana-sini buat kebutuhan beli seragamku, buku pelajaran dan sepatuku.
            Pagi tadi aku sempat sekilas membacara di Koran harian kalau pendidikan itu gratis sampai 9 tahun dan anak-anak di Indonesia harus wajib belajar 9 tahun. Aku terus menyimak berita tersebut sampai habis, apa benar–benar pemerintahnya ini mengratiskan pendidikan kita. Kalau toh gratis pasti aku sangat bahagia sekali. Syukur syukur aku bisa melanjutkan sekolahku lagi.
“Nak, kamu tetap semangat ya, bapak hanya bisa mendoakanmu saja. Anggaplah aku sebagai orang tuamu sendiri, tepukan tangan bapak Jiun dipundakku. Iya pak” terima kasih.  doa-doa yang menyertaiku seakan menambah lecutan semangatku ingin meraih pendidikan yang tinggi, sederajat dengan mereka-mereka  kaum mampu.
Kulanjutkan lagi perjalananku menyusuri gorong-gorong kota mengais rejeki dari sisa orang, mengumpulkan botol bekas,kardus bekas dan kaleng yang berserakan di jalan atau yang ada di tempat sampah. Tepat pukul 12 malam dan kurasai sudah sekarung penuh hasil pulunganku aku mengistirahatkan diri. Tidur di emperan jalan beralaskan ubin lantai yang dingin dan nyamuk-nyamuk yang merefleksi tubuhku dengan gratis menghisap setetes darah jernih tubuhku.


###
            Matahari telah nampak dari timur, tanda pagi sudah menjelang kubergegas ketempat distributor Koran mengambi ljatah Koran, yang harus kujajakan setiap hari di sudut kota, 2 bendel Koran yang berjumlah 50 buahpotong Koran dengan nominal uang 150 ribu rupiah haruskujajakanhabis. Setiap potong Koran aku mengambil untung 500 perak kalau ada 50 potong aku dapat mengantongi 25 ribu perharinya cukup untuk membeli 3 bungkus nasi dengan lauk tahu, tempe dan esteh.
            “Koran koran koran, buk, pak, koran mau beli ta?” “Iya dik beli koranya satu.”Pelangan pertama mengawali hariku ini. Terik matahari pada pagi ini tak mengurangi setiap jengkal kakiku untuk melangkah menyusuri jalan dan menjajakan koran. Meskipun perut ini sudah merontah-rontah untuk harus di isi. Tapi sepeser uang pun aku belum punya, ya terpaksa aku harus menahan dan menahan lapar ini sampai terkumpul semua uangku dan membeli nasi bungkus.
            Hampir menjelang sore koranku masih tersisa 20 potong, perasaan  bingung melanda diriku. Lantaran beritanya takut basi dan orang-orang tak mau membeli koranku, aku akan merugi, itu suatu ketakutan teramat, uang dan uang itu saja masalahnya bukan kesehatan, Tuhan telah memberikan rahmat yang tiada tak terkiranya kepada diriku. Di umurku yang hampir menginjak 17 tahun aku tak pernah merasakan kesakitan yang teramat pada diriku, meskipun jarang makan dan jarang istirahat aku tetap dalam keadaan sehat selalu.
            “koran..koran..koran..” “mas beli korannya!” sahut pengendara motor yang memangilku dari kejauhan. “owh, iya pak mau beli berapa potong koranya?” “itu ada berapa potong semua koranmu mas?”“Ini pak masih banyak ada 20 potong!”“Ya sudah kalau begitu bapak beli semuanya, ini sudah sore orang-orang pasti sudah jarang yang mau beli koran, kalau tidak pagi hari mas.”“iya pak,makasi yang banyak bapak sudah mau menolong saya.” “kamu  tadi sudah makan ?” tanya bapak“kebetulan saya dari tadi pagi belum makan pak.”“Owalah, ya sudah kalau begitu ikut naik ke sepeda bapak, ayo kita ke warung cari makan.”“Beneranta pak?” Sahutku. “Iya ayo cepat naik ke motor” “ow, iya,iya pak. terima kasih yang banyak sekali lagi.”
            Pertemuanku dengan bapak Irwan di jalan yang berlanjut di warung makan membukakan sedikit pencerahan bagiku. Aku sempat bertanya lagi kepada pak Irwan tentang kejelasan pemerintah tentang program wajib belajar sembilan tahun, dan kebutulan pak Irwan adalah seorang guru yang mengajar di kota Ganjur. “ program pemerintah wajib belajar sembilan tahun itu semuanya tidak gratis mas, kamu harus membeli keperluan alat tulis, seragam, sepatu dan tas. Bukan pemerintah mengratiskan semuanya.” Jawab pak Irwan“owalah jadi begitu ya pak, saya kira pemerintah sudah mengratiskan semua untuk pendidikan sampai jenjang SMP.”
            Lorong sempit pendidikan di Indonesia harus kutelan lagi pahit-pahit dalam mulutku, menelan pahitnya pendidikan bagi kaum sepertiku, anak yang hidup di jalanan mengais rejeki menjajakan koran setiap pagi dan memulung pada malam hari tentu tidak cukup untuk menyisakan uangku untuk membeli keperluan sekolah, sedang kebutuhan hidupku di kota Ganjur masih pontang-panting dan harus mengirimkan uang untuk ibu dan bapak di Loceret. Aku melihat Indonesia itu indah terutama di kota Ganjur ini hasil kekayaan alamnya melimpah ruah padi, jagung,singkong dan buah-buahan. Tapi mengapa menyisahkan sedikit anggaran untuk pendidikan gratistissss tidak di pungut biaya sepeser pun saja belum mampu. Lorong sempit pendidikan bagai tak pernah terjamah, takut untuk melihat kenyataan bahwa lorong itu begitu sempit, sampai-sampai aku tak bisa masuk dalam bangku pendidikan. Ya lorong sempit pendidikan itu, aku Karto cukup berdiri tegak dengan kedua kakiku, tegak menatap zaman yang keras, aku sudah cukup menelan pahitnya pendidikanku saja, dan jangan sampai terulang lagi bagi adik-adiku nanti.

Oleh : Dwi prayogaSetywan
Read more ...

Lorong Sempit

 “Indonesia itu luas, banyak penduduknya dan banyak kekayaan alamnya, tapi lorong sempit pendidikan bagi kaum sepertiku masih sangat kurasakan”.
            Semangat bertahan hidup ini rasanya tak pernah pupus, bertahun-tahun aku menghabiskan perjalanan hidupku di kota tua ini Ganjur. Dengan melelahkan, pagi hari menjual Koran harian dan malam hari memulung, tiada sedikit waktu senggangku meskipun hanya melepas tawa bersama teman-teman se kampungku Loceret.
            Menjadi perantau di kota Ganjur memang, menjadi suatu pilihan hidupku  ketika kedua orang tuaku di desa yang berpenghasilan tak lebih dari 500 ribu rupiah perbulan  tak sanggup menyekolakan aku lagi dan menyuruhku bekerja demi menutupi kekurangan kebutuhan hidup yang semakin terhimpit. Ya gara-gara masalah yang sangat penting uang dan uang. Haduuh uang-uang,kapan ya aku bisa menggengamu sebanyak mungkin dan melepaskan jerat pendidikan dari lorong sempit ini.
            “Mengapa kau begitu gelisah nak?” sahut bapak Jiun teman mulungku yang sedari tadi sengaja mengawasiku dari jauh. Aku lagi kepikiran sama pendidikan di Negara kita ini pak. Indonesia.”lah memang kenapa nak sama pendidikan kita?” aku sangat kecewa dulu bapak, aku hanya bisa bersekolah sampai tingkat sekolah dasar saja, itupun hasil kerja keras orangtuaku banting tulang ngutang sana-sini buat kebutuhan beli seragamku, buku pelajaran dan sepatuku.
            Pagi tadi aku sempat sekilas membacara di Koran harian kalau pendidikan itu gratis sampai 9 tahun dan anak-anak di Indonesia harus wajib belajar 9 tahun. Aku terus menyimak berita tersebut sampai habis, apa benar–benar pemerintahnya ini mengratiskan pendidikan kita. Kalau toh gratis pasti aku sangat bahagia sekali. Syukur syukur aku bisa melanjutkan sekolahku lagi.
“Nak, kamu tetap semangat ya, bapak hanya bisa mendoakanmu saja. Anggaplah aku sebagai orang tuamu sendiri, tepukan tangan bapak Jiun dipundakku. Iya pak” terima kasih.  doa-doa yang menyertaiku seakan menambah lecutan semangatku ingin meraih pendidikan yang tinggi, sederajat dengan mereka-mereka  kaum mampu.
Kulanjutkan lagi perjalananku menyusuri gorong-gorong kota mengais rejeki dari sisa orang, mengumpulkan botol bekas,kardus bekas dan kaleng yang berserakan di jalan atau yang ada di tempat sampah. Tepat pukul 12 malam dan kurasai sudah sekarung penuh hasil pulunganku aku mengistirahatkan diri. Tidur di emperan jalan beralaskan ubin lantai yang dingin dan nyamuk-nyamuk yang merefleksi tubuhku dengan gratis menghisap setetes darah jernih tubuhku.
###
            Matahari telah nampak dari timur, tanda pagi sudah menjelang kubergegas ketempat distributor Koran mengambi ljatah Koran, yang harus kujajakan setiap hari di sudut kota, 2 bendel Koran yang berjumlah 50 buahpotong Koran dengan nominal uang 150 ribu rupiah haruskujajakanhabis. Setiap potong Koran aku mengambil untung 500 perak kalau ada 50 potong aku dapat mengantongi 25 ribu perharinya cukup untuk membeli 3 bungkus nasi dengan lauk tahu, tempe dan esteh.
            “Koran koran koran, buk, pak, koran mau beli ta?” “Iya dik beli koranya satu.”Pelangan pertama mengawali hariku ini. Terik matahari pada pagi ini tak mengurangi setiap jengkal kakiku untuk melangkah menyusuri jalan dan menjajakan koran. Meskipun perut ini sudah merontah-rontah untuk harus di isi. Tapi sepeser uang pun aku belum punya, ya terpaksa aku harus menahan dan menahan lapar ini sampai terkumpul semua uangku dan membeli nasi bungkus.
            Hampir menjelang sore koranku masih tersisa 20 potong, perasaan  bingung melanda diriku. Lantaran beritanya takut basi dan orang-orang tak mau membeli koranku, aku akan merugi, itu suatu ketakutan teramat, uang dan uang itu saja masalahnya bukan kesehatan, Tuhan telah memberikan rahmat yang tiada tak terkiranya kepada diriku. Di umurku yang hampir menginjak 17 tahun aku tak pernah merasakan kesakitan yang teramat pada diriku, meskipun jarang makan dan jarang istirahat aku tetap dalam keadaan sehat selalu.
            “koran..koran..koran..” “mas beli korannya!” sahut pengendara motor yang memangilku dari kejauhan. “owh, iya pak mau beli berapa potong koranya?” “itu ada berapa potong semua koranmu mas?”“Ini pak masih banyak ada 20 potong!”“Ya sudah kalau begitu bapak beli semuanya, ini sudah sore orang-orang pasti sudah jarang yang mau beli koran, kalau tidak pagi hari mas.”“iya pak,makasi yang banyak bapak sudah mau menolong saya.” “kamu  tadi sudah makan ?” tanya bapak“kebetulan saya dari tadi pagi belum makan pak.”“Owalah, ya sudah kalau begitu ikut naik ke sepeda bapak, ayo kita ke warung cari makan.”“Beneranta pak?” Sahutku. “Iya ayo cepat naik ke motor” “ow, iya,iya pak. terima kasih yang banyak sekali lagi.”
            Pertemuanku dengan bapak Irwan di jalan yang berlanjut di warung makan membukakan sedikit pencerahan bagiku. Aku sempat bertanya lagi kepada pak Irwan tentang kejelasan pemerintah tentang program wajib belajar sembilan tahun, dan kebutulan pak Irwan adalah seorang guru yang mengajar di kota Ganjur. “ program pemerintah wajib belajar sembilan tahun itu semuanya tidak gratis mas, kamu harus membeli keperluan alat tulis, seragam, sepatu dan tas. Bukan pemerintah mengratiskan semuanya.” Jawab pak Irwan“owalah jadi begitu ya pak, saya kira pemerintah sudah mengratiskan semua untuk pendidikan sampai jenjang SMP.”
            Lorong sempit pendidikan di Indonesia harus kutelan lagi pahit-pahit dalam mulutku, menelan pahitnya pendidikan bagi kaum sepertiku, anak yang hidup di jalanan mengais rejeki menjajakan koran setiap pagi dan memulung pada malam hari tentu tidak cukup untuk menyisakan uangku untuk membeli keperluan sekolah, sedang kebutuhan hidupku di kota Ganjur masih pontang-panting dan harus mengirimkan uang untuk ibu dan bapak di Loceret. Aku melihat Indonesia itu indah terutama di kota Ganjur ini hasil kekayaan alamnya melimpah ruah padi, jagung, singkong dan buah-buahan. Tapi mengapa menyisahkan sedikit anggaran untuk pendidikan gratistissss tidak di pungut biaya sepeser pun saja belum mampu. Lorong sempit pendidikan bagai tak pernah terjamah, takut untuk melihat kenyataan bahwa lorong itu begitu sempit, sampai-sampai aku tak bisa masuk dalam bangku pendidikan. Ya lorong sempit pendidikan itu, aku Karto cukup berdiri tegak dengan kedua kakiku, tegak menatap zaman yang keras, aku sudah cukup menelan pahitnya pendidikanku saja, dan jangan sampai terulang lagi bagi adik-adiku nanti.

Oleh : Dwi Prayoga Setywan
Read more ...

Tentang cita-cita, bukan sebatas pajangan

Bukan sebatas lambang untuk dipajang, melainkan cita-cita yang harus diwujudkan. Ungkapan klise yang sering didengungkan. Siapapun bisa mengungkapakan kalimat itu tapi sayangnya tak semua orang pandai memaknai kalimat bersahaja itu.
Hampir 70 tahun Indonesia dikobarkan bahwa Indonesia telah merdeka. Tapi nyatanya? Jauh dari kata merdeka. Merdeka dalam arti sebenarnya, bukan tentang tumpang tindih yang merajalela antara penguasa dan jelata seperti saat ini. Bukan juga tentang kriminalisasi yang membabi buta. Membantai siapapun demi apapun tak peduli harga diri. Bukankah telah menjadi hak setiap warga negara Indonesia untuk memperoleh kedamaian dalam hidup?
            Bukan bermaksud menyalahkan stake holder Indonesia. Namun negara kita punya tujuan yang sudah termaktub dalam pembukaan UUD 1945 alinea keempat yaitu, 1) merdeka, 2) bersatu, 3) berdaulat, 4) adil, dan 5) makmur. Jelas sudah tujuan dari segala tindak tanduk negara Indonesia.
            Namun apalah guna teori jika tidak diimbangi dengan aplikasi yang selaras. Tak ada gunanya juga semua warga Indonesia hafal dengan tujuan negara Indonesia namun tak punya kemauan untuk memaknai lebih apa yang tersirat dalam tujuan tersebut. Sesuatu yang fitrahnya berharga namun tak dapat memaknai, maka sesuatu tersebut tak ada harganya. Sama halnya dengan dasar filsafat negara kita, Pancasila. Founding father kita bersusah payah merumuskan dan memperjuangkan dasar itu bukan semata untuk formalitas, melainkan mereka punya harapan besar kepada kita untuk meneruskan perjuangan mereka dengan berbekal ilmu dari mereka.
            Percayalah, mereka pasti menggelengkan kepala jika mereka mengetahui bahwa jati diri Indonesia yang dulu segenap hati diperjuangkan kini telah berada diujung tanduk. Semakin berkembangnya zaman tak diimbangi dengan penegakan moral yang seharusnya, namun semakin berkembangnya zaman membuat sifat amoral berserakan dikalangan para penerus bangsa. Pelan tapi pasti menggerogoti keutuhan negara.
            Banyak dari kita lupa atau bahkan membutakan diri dari sejarah. Bagaimana mudahnya para bapak negara kita menyandingkan nyawa mereka demi sebuah kehormatan bangsa. Bangsa Indonesia, bukan yang lain. Sedangkan kita? Sebagian dari kita dapat memaknai saja sudah syukur.
            Berbicara tentang nasionalisme bukan berarti berbicara tentang siapa yang merasa sok suci atau merasa paling benar. Tetapi tentang bagaimana kita sebagai tonggak bangsa secara sadar bersama belajar,bangkit, dan terus berjuang meneruskan tongkat estafet kemerdekaan bangsa. Bukankah itu mudah jika kita bisa bertenggang rasa bersama?

Dirgahayu Pancasilaku – 01 Juni 2015.
Semoga engkau selamanya kekal sebagai tanda betapa mahalnya engkau bagi bangsa kami. Sebagai tanda tonggak sejarah peradaban Indonesia yang terlalu berharga untuk diabaikan begitu saja. Semoga bukan hanya pengharapan baru yang mulai terlahir, namun tindakan baru juga mulai terlahir dari sini.

Dari kami yang sama sepertimu.
Read more ...

Menghidupi Pancasila yang telah Mati


            Pancasila bukan lagi hal baru bagi rakyat Indonesia. Semua sendi-sendi negara ini diambil dari nilai-nilai Pancasila dan tidak boleh keluar dari itu. Aktivitas manusia tentunya tak bisa lepas dari Pancasila dan UUD’45. Hampir semua rakyat Indonesia hafal di luar kepala bunyi dari Pancasila. Bahkan di setiap gedung pemerintahan dan sekolah telah bertengger burung garuda di jajaran paling atas melebihi presiden. Namun kenyataannya saat ini Pancasila telah mati. Salah satu bukti matinya Pancasila juga menyentuh dunia pendidikan yang pada dasarnya merupakan elemen paling dekat dengan Pancasila .
            Pancasila dikatakan mati hanya saat diucapkan setiap kali upacara bendera, Pancasila dikatakan mati saat masih banyak anak-anak yang memenuhi bus kota untuk meminta belas kasihan melepas sekolahnya dan Pancasila dikatakan mati kala banyak kekerasan masuk dalam dunia pendidikan. Pendidikan dewasa ini sedikit demi sedikit telah tersesat dari ideologi Pancasila. Banyak yang telah mengetahui konsep Pancasila namun pengetahuan tersebut belum merujuk ke dalam inti sari Pancasila itu sendiri.
            Pancasila sebagai dasar negara tak ayal berubah sebagai benda kusam peninggalan leluhur. Segala sesuatu yang terkandung dalam sila suci itu tak ubahnya jadi tontonan. Hilir mudik individu melupakan jejak sejarah mereka. Tak terhitung generasi emas bangsa gugur berjatuhan. Bukan karena mereka kalah dalam perang dengan penjajah yang mengakibatkan mereka jatuh. Namun lebih karena mereka jatuh akibat mental mereka sendiri.
Pancasila telah ada semenjak 1 Juni 1945 namun beberapa dekade terahir banyak terlihat bukti matinya Pancasila. Seperti pidato yang disampaikan wakil ketua pengkajian MPR RI Hasanudin pada peringaratan hari lahir Pancasila yang dilaksanakan di Blitar kemarin. Hasanudin menuturkan bahwa Pancasila adalah konsensus dan cita-cita bangsa, sehingga Pancasila harus dimaknai sebagai petunjuk arah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Maka jelas terlihat saat kiblat Indonesia terlebih dunia pendidikan saat ini lebih mengarah pada dunia kebaratan maka petunjuk itu mulai merapuh. Pancasila bukan lagi menjadi petunjuk arah satu-satunya saat kaca pendidikan mulai mengarah pada titik lain yang melenceng dari naruni bangsa.
Pendidikan merupakan salah satu wadah untuk menghidupi kembali matinya pancasila. Pancasila yang telah ada menjadi sangat penting saat tetap dijadikan poros utama dalam pelaksanaan sitem kependidikan. Secara yuridis, Pancasila sesuai dengan Undang-Undang nomor  12 tahun 2011 sebagai sumber dari segala sumber hukum dan secara sosiologis Pancasila mampu beradaptasi dengan perubahan. Maka pendidikan saat ini benar-benar harus menggali hakikat Pancasila yang sesungguhnya dan tidak terjebak dalam westernisasi (kebarat-baratan) yang jelas-jelas bukan kepribadian Indonesia. Sifat Pancasila yang tidak kaku kembali dihidupakan sebagai acuan utama dalam dunia pendidikan.
Pendidikan bukan lagi menjadi wahana agar terlihat keren dan mencari eksistensi belaka kala yang digunakan adalah nilai Pancasila yang sesungguhnya. Saat Pancasila mampu kembali hidup dari setiap sendi-sendi pendidikan di penjuru negeri ini mengalahkan weternisasi yang kian menjamur di situlah letak Pancasila sebenar-benarnya. Mental anak-anak negeri harus digodok samapi matang supaya tidak terjerat arus perubahan. Pembenaran mental yang telah melenceng dilakukan sedini mungkin. Sehingga Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 Bab 2 tentang sistem pendidikan nasional yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang terlaksana dengan baik. Pancasila bukan lagi hanya mampu dilafalkan namun diimplementasikan dalam proses pendidikan di Indonesia. Maraknya anak putus sekolah kian bisa teratasi karena pendidikan bukan hanya untuk kaum elit negeri saja dan kekerasan dalam dunia pendidikan tidak lagi terlihat karena masing-masing punya pedoman yang sama.

Tidak mudah menghidupkan kembali Pancasila yang tergeser perubahan. Butuh sebuah kejelasan tekad dan kerjasama multidisipliner dari semua pihak. Indonesia mempunyai nilai gotong royong yang menjadi ciri khasnya. Masih bisahkah rakyat menghidupkan Pancasila dengan bergotong royong dan bahu-membahu ditengah arus westernisasi yang merajalela??
Read more ...

NEGERIKU SAKIT

Tengoklah Negeri kita tercinta..
Telah lama kita merdeka dari kecaman teror
MER..DE..KA.. menggema dimana-mana
Merdeka dari penjajah namun kini terjajah oleh diri
Sepertinya jiwa ini sakit
Sakit oleh kesenangan duniawi
Negeri ini juga sedang sakit rupanya
Lihatlah.. Negeri yang haus akan keadilan
Lapar akan nikmatnya kesejahteraan
                        Teringat sebuah jati diri negeri yang masih dihormati
                        Jati diri itulah yang melambangkan negeri kita
                        Jati diri yang hanya terucap oleh kata
                        Namun hilang entah kemana
                        Bagaikan angin musim semi
                        Berhembus sekelebat  kemudian tak bisa dirasa lagi
Jati diri itulah yang sekarang kucari
Namun tetap saja nihil
Masikah kita dapat melihat dengan mata?
Masihkah kita bisa merasa dengan hati?
Pancasila.. masih hidupkah engkau di jiwa yang sakit ini?
Pancasila.. masihkah engkau mau mendampingi negeri yang sakit ini?
Kuharap kau tak berhenti menemani langkah negeriku
Negeri yang ku cinta.. INDONESIA

(Bangkalan, 03-06-2015. 23:45)
Read more ...

Alamat Kami

Jln. Raya Telang - Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Trunojoyo Madura

Follow Us

Designed lpmsinar Published lpmsinar_fkipUtm