Selamat Datang di Situs Lembaga Pers Mahasiswa Sinar_FkipUtm

Rabu, 14 Oktober 2015

Jalan Senyap Sastraku

“Menulislah, apapun jangan pernah takut tulisanmu tidak dibaca orang, yang penting tulis, suatu saat pasti berguna”  Pramoedya Ananta Toer
Saya pernah merasakan betapa lesunya, karya sastra  di kampus. Saat sebuah karya sastra hanya mampu dihasilkan saat tugas kuliah atau ajang-ajang perlombaan dengan embel-embel hadiah dan sertifikat. Itupun tidak banyak yang mengikutinya. Lantas bagaimana, perkembangan sastra kita saat ini.? apakah hanya berkutat pada sebuah pemaksaan dalam pembuatan karya satra? Itu tidak mungkin sekali menurut saya. Seseorang mampu menulis karena ada beberapa faktor pertama seseorang tersebut memang mencintai dalam bidang  kepenulisan sastra, kedua karena faktor penulis sendiri yang tak mempunyai bahan dalam kepenulisannya sehingga enggan untuk menuliskan gagasanya.
“Dalam pengalaman saya, sesuatu terasa menjadi ruwet sekali, ketika tidak mempunyai pengetahuan dalam bidang tersebut. Pelajaran MIPA saya tidak memiliki kemampuan untuk menghafalkan rumus-rumus yang sedemikian rupa. Sehingga tidak mampu untuk menyelesaikan. Karena itu bukan bidang saya.”
Banyak dari sekian kaum akademisi kita tidak mampu menulis karya satra, itu mungkin dikarenakan dari faktor kedua. Mereka tidak mempunyai bahan (pengetahuan) dalam kepenulisannya dan menganggap ruwet seperti saya, dalam mengerjakan pelajaran dibidang MIPA. Ibarat kata seorang penjajah yang mau berperang tetapi tidak mempunyai senjata. Bisa kita tebak bagaimana kaum akademisi kita, kalau mau menulis tetapi tidak mumpuni dalam kepenulisanya. Mereka akan kesulitan sekali memulai menulis atau memilih kata (diksi) dan menyatukannya, sehingga terbentuk suatu tulisan.
Banyak orang-orang yang menganggap bahwa menulis adalah sebuah pekerjaan yang menyita waktu, atau malah menganggap bahwa menulis adalah pekerjaan yang sudah digeluti sejak kita menempuh pendidikan paling mendasar sampai jenjang perguruan tinggi. Dan mengangap menulis bersifat mudah. Maindset itu juga yang berpengaruh besar bagi kalangan akademisi untuk enggan belajar dalam menulis.
“Kita menulis karena kita mencintai kata-kata: bagaimana ia terdengar, bagaimana ia menggetarkan pita suara kita, bagaimana ia membentuk kalimat dan memberikan makna terhadap keberadaan kita. Kata-kata adalah bayi yang kita lahirkan. Kita mestinya memperlakukan mereka sebaik-baiknya—tidak dengan cara teledor.”  As Laksana
Jalan Senyap Sastraku
Sebuah karya sastra memang tak seheboh dengan karya-karya lain dibidang teknologi maupun lainya yang mampu membuat sebuah perubahan besar, namun pada waktu bencana tsunami di Aceh, seluruh penulis di Indonesia beramai-ramai mengumpulkan puisi mereka untuk di kirimkan ke Aceh. Memang puisi bukan sumbangan yang dibutuhkan oleh masyarakat Aceh yang kala itu lebih membutuhkan bahan pokok makanan, pakaian, selimut dll. Tapi puisi setidaknya memberikan bantuan imorill, membangkitkan semangat mereka yang terpuruk saat menghadapi bencana alam.
Dengan pengolahan kata yang apik, penulis-penulis kita mampu membuat emosi rakyat Aceh tergugah semangatnya untuk bangkit. Kata adalah sebuah senjata yang mampu membuat setiap pembacanya merasakan sedih maupun gembira. Hal itulah yang belum mampu dibaca oleh kaum akademisi kita saat ini yang berada di kampus saya. Mereka masih enggan untuk menulis. “Ah entahlah saya bermimpi bahwasanya nanti, entah kapan itu akedemisi di kampus saya berlomba-lomba untuk membuah karya sastra.
“Menulislah, apapun jangan pernah takut tulisanmu tidak dibaca orang, yang penting tulis, suatu saat pasti berguna”  Pramoedya Ananta Toer
Itulah kata-kata Pram yang mampu membuat semangat kita untuk menulis, alangkah baiknya kita berkenalan dahulu terhadap dunia sastra kita, ada pepatah “Tak kenal maka tak sayang” itulah ungkapan bagi kita, kita harus mengenal dunia sastra dahulu mengenal teorinya, mengenal tulisannya dan segalanya tentang dunia sastra supaya kita mencintainya. Lalu  kita mencoba untuk menulis sastra.
Mengapa kita tidak beramai-ramai saja membuat karya sastra entah berupa cerpen, opini, essai, puisi dan lain-lain yang tulus dari hati kita, bukan semata-mata hanya karena hal paksaan dari dosen atau seruan perlombaan dengan iming-iming hadiah. Berikan sumbangan Indonesia setidaknya dari karya terbaikmu.
“Satraku mungkin tidak akan senyap lagi kalau akademisi kita sudah mencintai sastra. Itu impianku. Entahlah semoga saja cepat terlaksana bukan sebuah pengapain yang absourd dan utopia belaka saja impian ku ini.”

Oleh : Dwi Prayoga S

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Alamat Kami

Jln. Raya Telang - Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Trunojoyo Madura

Follow Us

Designed lpmsinar Published lpmsinar_fkipUtm